Jumat, 09 November 2012

Menciptakan Lingkungan Kerja yang sehat

Menciptakan lingkungan kerja yang sehat adalah sebuah kompetensi yang harus dimiliki oleh semua staff di tiap unit di rumah sakit. Termasuk didalamnya adalah perawat. Perawat dituntut memiliki kemampuan ini karena dalam kenyataan dilapangan, perawatlah ujung tombak pelayanan rumah sakit. Perawatlah yang lebih banyak “bersentuhan” dengan pasien dan keluarganya. Dalam 24 jam, perawatlah yang lebih banyak berkomunikasi dan memberikan pelayanan dengan asuhan keperawatannya. Dari hal tersebut, perawat harus mampu memulai dari dalam dirinya menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Sesuai standar American Association of Critical Care Nursing (AACN) Lingkungan kerja yang sehat dipengaruhi oleh beberapa kategori, yaitu: kemampuan berkomunikasi yang baik, kerjasama/kolaborasi yang sesungguhnya, pengambilan keputusan yang tepat, pengaturan ketenagaan yang memadai, saling mengakui dan menghargai antar staff, serta kepemimpinan yang handal.
Sudah bukan sesuatu yang baru ketika komunikasi adalah kunci jawaban paling ampuh dalam sebuah hubungan interpersonal, dalam komunikasi terkirim sebuah pesan dan diterimanya pesan timbale balik. Komunikasi dianggap sebagai “senjata” paling ampuh yang dimiliki oleh seorang perawat. Baik dalam hubungannya dengan pasien, atau selebihnya hubungan dalam sebuah tim.
Yang akan lebih saya soroti disini adalah variable ke 6, yaitu saling mengakui dan menghargai antar staff, professor J, seorang guru besar keperawatan di sekolahku mengatakan bahwa. Aspek ini sangat penting dan merupakan aspek dasar dalam sebuah hubungan. Hubungan tanpa adanya saling menghargai akan menganggap yang lain superior dan yang lainnya inferior menjadikan hubungan dilingkungan kerja tidak sehat. Baik hubungannya dengan antar profesi atau sesame profesi sendiri.
Saling mengakui dan menghargai sesame profesi perawat saya pandang sebagai sebuah hal yang sangat-sangat penting. Aspek ini harusnya sudah ditanamkan secara berulang-ulang dan benar-benar menjadi consent dalam keperawatan. Fenomena yang ada selama ini adalah, belum adanya saling mengakui, menghargai dan berjalan seirama. Masing-masing menggunakan egonya sendiri, masing-masing menganggap bahwa dirinya paling benar dan paling mampu. Sebagai contoh simple sebagai embrio rasa tidak mengakui sesame profesi adalah ketika sesama mahasiswa yang sedang praktik klinik di rumah sakit dan bertemu dengan mahasiswa dari institusi lain. Bukannya mereka duduk bersama dan berdiskusi merencanakan sebuah pengembangan bersama, yang ada adalah saling menggunjing, saling menjelek-jelekkan institusi yang lain, memandang bahwa intitusi lain begini lah, institusi itu begitu lah dan sebagainya. Tanpa adanya rasa saling memiliki profesi bersama, memiliki tanggung jawab bersama mengembangkan profesi keperawatan ini.
Karena hal tersebut sudah menjadi kultur yang terus menerus dihembuskan oleh generasi pendahulu hingga generasiku, dan kenyataan dilapanganpun tak jauh berbeda dengan yang terjadi semasa menjadi mahasiswa. Bahkan dalam structural dan organisasi pemerintahpun walaupun katanya profesinya perawat masih saja terkotak-kotak tanpa adanya keselarasan pandangan.
Ambil saja contoh, jenjang pendidikan keperawatan di Indonesia yang masih terpecah belah dan susah disatukan karena memiliki pandangan masing-masing. Pendidikan dibawah kementrian kesehatan yang di formulasikan hingga pendidikan D-IV keperawatan semakin menjadikan profesi keperawatan semakin tidak focus. Pendidikan dibawah kementrian dikti diawali dari jenjang sarjana hingga pascasarjana. Hal ini contoh real yang bagi siapa saja kadang menutup mata dan telinga untuk membahasnya karena masing-masing memiliki kepentingannya sendiri-sendiri.
Lagi-lagi ketika sharing dengan professor dikampusku saat ini, pada awalnya aku menggali informasi system pendidikan di Portugal, ada berapa banyak pendidikan tinggi keperawatan di Portugal dan sabagainya, dan mengalirlah obrolan kami. Hingga sampai pada pertanyaan beliau mengenai Indonesia. Pertanyaan beliau sangat spesifik dan simple, “dengan adanya multi level pendidikan, mulai dari Diploma, dan sarjana apakah dilapangan ada perbedaan tanggung jawab?”
Aku hanya tersenyum dan mencoba menjawab secara diplomatis. Kemudian beliau mulai menceritakan bahwa 15 tahun silam, di Portugal juga memiliki masalah yang sama. Dengan banyaknya macam pendidikan keperawatan dan level jenjang pendidikan. Namun, kemudian perawat-perawat di Portugal duduk bersama, saling membuka hati dan pikiran bersama-sama bahwa perlu adanya pembenahan. Hingga kemudian dirumuskan adanya kesepakatan bersama dan menjadi panduan bersama bahwa pendidikan keperawatan di Portugal diawali dengan sarjana keperawatan yang ditempuh selama 4 tahun. Semua pendidikan tinggi memiliki system yang sama dan berada dibawah kementrian pendidikan. Hingga sekarang mereka mampu mengatakan bahwa hampir semua lulusan dari setiap institusi pendidikan memiliki kompetensi yang sama.
Mengenai tanggung jawab dan kompetensi, sesungguhnya akupun pernah mendengar adanya perbedaan dan sudah dirumuskan jauh-jauh hari sebelumnya. Namun kenyataan dilapangan memang jauh panggang dari api. Semua berjalan seperti apa adanya, seperti kultur dan kebiasaan yang sudah ada dari ratusan tahun sebelumnya.
Berkaca dari Negara Portugal dan mungkin Negara-negara yang lain. Mampukah para petinggi-petinggi keperawatan di Indonesia, baik yang ada di kementrian kesehatan atau kementrian pendidikan duduk bersama dan saling membuka hati dan pikiran untuk mendapatkan jalan keluar secara bersama?
Memulai langkah baru memang kadang tidak mudah, kadang membutuhkan effort yang cukup kuat untuk membuang jauh-jauh kepentingan pribadi, mengesampingan bisnis dan kebutuhan dapur. Namun demi kemajuan profesi keperawatan di Indonesia, alangkah mulianya jika pengalaman di Negara Portugal bisa menjadi referensi untuk Indonesia. Dengan begitu buruknya system kerjasama didalam profesi keperawatan sendiri menurutku menjadikan profesi lain bertepuk tangan dan tersenyum “menghina”.
Bagaimana mereka akan menerima kita sebagai mitra jika dari dalam profesi sendiri kita masih saling bertengkar, saling “jotakan” belum ada kesepahaman bersama. Apakah teori kolaborasi dan kemitraan hanya akan berdengung di dalam teori dan pelajaran kampus saja namun jauh dari kenyataan di lapangan??
Ada beberapa hal yang tentunya mampu dilakukan sejak dini untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, khususnya saling menghargai dan mengakui antar sesame profesi.
Pertama, sejak awal seorang calon perawat harus sudah ditanamkan dan diajarkan secara mendalam dan berulang-ulang. Tanamkan dalam pikiran dan tingkahlaku mereka bahwa menghargai sesame perawat adalah hal yang paling penting. Jangan memandang mereka dari institusi mana, namun yang namanya perawat, kita bisa bersatu tanpa ada embel2 nama institusi pendidikan.
Kedua, role model dan contoh para petinggi-petinggi di keperawatan harus mampu memberikan gambaran bagaimana sesama perawat menghargai dan mengakui antar sesamanya, sesame institusinya. Dengan kesungguhan hati mampu membuka diri dan membagi ilmunya untuk bersama.
Ketiga adalah mencoba mengaaplikasikan apa yang sudah dipelajari dengan sebaik-baiknya, bekerja dengan sepenuh hati dan menjadi bagian dari system kerja secara seimbang dan professional.
Keempat, membawa pemahaman saling menghargai dan mengakui sesame profesi perawat kedalam dunia pekerjaan. Jangan mudah bertengkar sesame perawat sendiri, saling bekerjasamalah, saling menjaga dan berkomunikasi yang baik. Jangan sampai mengkambinghitamkan sesame perawat atau bahkan menjatuhkan nama baik sesame profesi.
Keempat hal tersebut yang saya rasa bisa dijadikan permulaan dari dalam diri sendiri dan sesame profesi untuk saling mengakui dan menghargai. Setelah itu baru diaplikasikan ke profesi lain dalam sebuah tim.

2 komentar:

Budianto mengatakan...

SubhanaALLAH...Tulisannya sangat Mencerahkan Dan Menginspirasi Mas...Oia mhon ijin untuk di share kan ke Group keperawatan Ns...

Budianto mengatakan...

SubhanaALLAH..Tulisannyax Sangat Mencerahkan dan Mengispirasi Ns...Mohon Ijin sy ingin Meng_SHARE kan Hali ini pd Group2 Keperawatan yg saya miliki....thanks b4 Ns..