Senin, 05 November 2012

Experiences - Health System

“Klik2…” Sebuah short message masuk.. “Bagaimana kabarnya? Ada update ilmu apa?” Kubaca berkali-kali sms itu, kumencoba memberanikan diri untuk membalasnya walau mungkin tidak sepenuhnya menjawab pertanyaannya. Pertanyaan yang cukup sulit kurasakan.
“System kesehatan di Portugal (LN??) lebih teratur…”
Kukatakan demikian karena kita bisa berkaca pada diri kita sendiri di Indonesia. Semua orang sudah tahu dan tak bisa memungkiri bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia masih jauh dari kenyataan tertata dengan baik. Kesenjangan terjadi dimana-mana. Ada harga ada rupa. Ada uang layanan terbaik bisa di beli. Kalau gak ada uang, silahkan mencari tempat untuk dikuburkan. Bahasaku sangat sinis memang. Namun demikian adanya.
Kenyataan pahit yang pernah aku lihat didepan mata kepalaku sendiri, ketika seorang pasien dengan terpaksa mengambil jalan pintas, pulang paksa atas permintaan sendiri, dan minimal therapy, do not attempt resuscitation (DNAR). Padahal kondisi sepsis berat seperti yang dialami pasien tersebut, jika ada pelayanan yang maksimal akan dapat di lalui, dan crisis schok sepsis akan tertangani.
Kenyataan mengatakan lain, kondisi financial problem yang dialami dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan menjadikan fakta bicara lain. Rujukan yang dialamatkan ke berbagai rumah sakit pemerintah daerah, yang seyogyanya bisa memberikan pelayanan gratis mengatakan bahwa tempatnya penuh, ataupun jika ada tempat, tidak memiliki vasilitas mechanical ventilation. Kenyataan pahit bagi kaum papa!
Fasilitas jamkesmas, askeskin, jamkesda, atau apalah namanya. Tidak membuktikan sebuah cara yang ampuh untuk memeratakan layanan kesehatan. Fasilitas tempat rujukan yang adapun sangat minimal dari sebutan standar. Ataupun jika ada yang standar, warga masih banyak yang belum tahu bagaimana memanfaatkan fasilitas yang ditawarkan itu. Warga lebih senang menyimpan lara-nya sendiri daripada membebani Negara, warga lebih suka menyimpan deritanya sendiri demi kesejahteraan Negara. Namun Negara begitu susah memahami warganya. Mungkin analisaku terlalu ekstrim, memang aku jadikan seperti itu supaya semua membuka mata.
Di Portugal, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kondisi Indonesia. Karena Portugal bukanlah Negara Eropa yang kaya dan makmur, krisis ekonomi yang melanda eropa menjadikan warganya prihatin dan mendukung pemerintah. Setidaknya demikian pengamatanku.
Di sebuah kota kecil Santarem misalnya. Santarem merupakan sebuah kota distrik dari Portugal. Memiliki pemerintah daerah sendiri. Mungkin bisa diibaratkan provinsi, namun karena kotanya yang kecil dan penduduknya yang sedikit, mungkin hal inilah yang menjadikan kemudahan dalam melakukan pengaturan.
Di Santarem ada sebuah RS Pemerintah yang berdiri kokoh, tinggi, besar. Layaknya RS Siloam Karawaci. Namun ini miliknya pemerintah. Ada beberapa rumah sakit swasta (privat) namun skala dan ukurannya lebih kecil.
Jadi, secara umum dapat disimpulkan seperti ini :
1. Perawat di mana2 underpaid…
Kata banyak temen, semoga tidak hanya sekedar menghibur hati. Gajinya adalah pahala. Yang nantinya akan diterima di surga. InsyaAlloh..
2. Ilmu sich itu-itu saja yang dipelajari
Hanya bagaimana ilmu itu dipelajari, diendapkan, dianalisa dan disintesis. Dengan hati yang bersih dan niat mulia. InsyaAlloh jadi ilmu yang bermanfaat. 3. Yang lebih diperhatikan adalah, bagaimana menggunakan ilmu ke praktek dan mempraktekkan ilmu. serta menjadikan hasil praktek menjadi ilmu
4. Harus berfikir keras menjembatani antara akademik-klinik-akademik
5. Dimana banyak hal yang mempengaruhi, spt expert opinion, pemegang kebijakan dan pengguna jasa. Semuanya terangkum dalam evidence base practice...hingga semuanya sejalan seirama...gak jalan sendiri2 dan punya dunianya masing-masing
6. Harus sama-sama membuka diri dan membuka hati…menerima dan ikhlas menjalankanya.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

saya mau tukar dollar koin 5dollar hongkong banyak berbagai macam koin