Senin, 08 April 2013

Clinical Practice

Setelah liburan 2 minggu (Semana Santa Holiday ++) akhirnya clinical practice di sebuah rumah sakit di pusat kota Asturias, Spain pun berlanjut. Kalau sebelumnya saya mendapatkan pengalaman banyak di general intensive care, saat ini saya mengajukan diri untuk mencari pengalaman di respiratory intensive care. Saya katakan mengajukan diri karena sebenarnya di unit ini memang tidak di jadwal untuk route clinical practice kali ini. Route sebenarnya adalah General Intensive Care Unit, Cardiac Intensive Care, dan Emergency Care Unit. Pada waktu itu kepikiran untuk mengambil respiratory intensive care unit karena dismester tiga nantinya pengen ambil simutation dibagian respiratory care.
Dan jadilah saya mendapat kesempatan untuk berpraktek di unit ini. Unit ini dinamakan Unit Silicosis. Silicosis sendiri merupakan sebuah penyakit paru-paru khas dari Asturias, menurut cerita dulunya terjadi lonjakan kasus silikosis yang cukup signifikan disini. Makanya, sebagai Teaching hospital, RS ini kemudian mendirikan sebuah institute silicosis. Silicosis sendiri merupakan sebuah penyakit paru-paru yang tanda dan gejalanya mirip dengan penyakit paru obstructive kronis (COPD). Hanya saja penyebabnya saja yang berbeda.
Mungkin karena jaman silicosis sudah terjadi dulu banget, jadinya unit ini sekarang hanya merawat pasien-pasien dengan COPD biasa yang non silicosis cases. Ya sudahlah..tidak apa-apa. Pikirku dalam hati.
Unit respiratory intensive care di institute silicosis didesign dengan ruangan kubikle, berbentuk box-box. Alias satu pasien-satu ruangan. Design intensive care yang aku sukai. Banyak pendapat mengatakan bahwa dengan design ini maka pencegahan infeksi nosokomial akan terkendali bahkan ada yang berpendapat bahwa dengan design seperti ini pelaksanaan tugas perawat terhadap pasien menjadi focus, bisa memaksimalkan patient centered care, menjaga privacy antar pasien dan memberikan ruang lebih bagi keluarga untuk berpartisipasi dalam perencanaan program perawatan maupun memaksimalkan dukungan keluarga.
Yap, walaupun banyak kelebihan dan kekurangannya, system kubikle ini sudah sering saya baca dan dalami ketika masih bekerja di sebuah RS ber akreditasi internasional dibilangan Bumi Serpong Damai Tangerang. Jadi design ini sudah tidak asing bagi saya. Saya tidak ingin membahas banyak mengenai system kubikle ini, karena ingin rasanya suatu saat menjabarkannya lebih gamblang dalam sebuah tulisan ilmiah, inginnya… Namun jika tidak kesampaian, semoga ada generasi yang tergerak untuk mendalaminya lebih focus.
Kembali ke kegiatan clinical practice, lagi-lagi para staf disini menerimaku dengan senyum ramah dan tangan terbuka. Terlepas karena saya mahasiswa internasional yang berasal dari “far-far away island” dibelahan bumi antah barantah. Namun aku merasakan eneergi yang berbeda ketika memasuki ruangan intensive care, ketika mulai menyapa mereka, ataupun ketika berpraktek bersama mereka.
Membandingkan ada kalanya dinilai negative, namun masih terngiang dikepala ketika dulu sekali mendapatkan kesempatan berpraktek di rumah sakit pusat rujukan di jawa tengah, ketika itu saya sedang menyelesaikan program sarjana keperawatan. Disaat deraan rasa ingin tahu yang berlebih, dan rasa penasaran dan juga kebingungan karena jembatan antara akademik dan klinik terasa dalam dan curam. Namun yang terjadi adalah kelelahan dan dianggap tambahan “sumber daya manusia”. Masih terngiang sekali di telinga ketika kami ber 5 serombongan kelompok tiga memasuki sebuah ruangan praktek. Dan ada seseorang nyeletuk “wah…banyak perbantuan..syukurlah, pas pasien banyak nech”. Gubrak…dalam hati sangat dongkol sekali. Kami ini lagi butuh banyak bimbingan, lagi butuh banyak input ilmu-ilmu yang bermanfaat, bukannya dianggap sebagai antek-antek yang bisa disuruh-suruh.
Jadi, mengambil contoh diatas bukan bermaksud untuk membandingkan, hanya sekedar ingin sharing apa yang saya rasakan selama menjalani clinical practice di belahan negara lain.
Ach, sudahlah. Itu masa lalu. Pastinya saat ini sudah berubah.
Kita kembali saja ke pengalaman clinical practice saya saat ini. Walaupun saya master student, dengan background pengalaman kerja diruang icu sebelumnya. Namun bukan hal yang aneh jika saya masih merasa wiga-wigi ketika memegang pasien. Maklum saja ini di konteks internasional, hubungan dua negara bisa pecah kalau saya melakukan kesalahan dalam praktek klinik ini. Halah..lebay…hehehe
Tidak seperti itu sebenarnya, ketika memasuki ruangan. Sebelumnya saya diterima oleh seorang head nurse, yang kemudian memberikan seragam untukku pakai sehari itu. Seragamnya tidak dibedain dengan seragam perawat-perawat maupun staf yang ada di situ. Semua sama tak ada bedanya.
Setelah itu saya dianter ke perawat yang akan menjadi guideku selama seharian. Karena saya tidak bisa bahasa local, jadilah saya dicarikan perawat yang bisa berbahasa inggris. Seperti biasanya. Perawat inilah yang akan mem-preceptor-i saya seharian penuh. Semua dilakukan dengan penuh senyum, jabat hangat, bahkan tak jarang yang cipika-cipiki, menanyakan nama, dari mana asalnya. Sambutan yang hangat sekali.
Disela-sela praktek tak jarang yang menanyakan “bagaimana hari ini? Suka? Seneng? “ dan pastinya aku jawab dengan senyum dan bilang sangat suka.
Preceptor yang akan menjadi guideku seharian penuh, aku rasakan sangat terlatih. Entah sudah ada pelatihan khusus sebelumnya atau belum, namun bagaimana mereka memposisikan disi terhadap mahasiswa yang sedang belajar sangat prosesional. Mereka akan tampak “sedih” atau “kecewa” jika seharian mahasiswanya tidak mendapatkan apa-apa. Mereka seakan menyiapkan diri. “wah, ada mahasiswa yang akan bersama saya, apa yang harus saya tularkan atau ajarkan hari ini ya?” jadi tak jarang jika mereka kemudian memberikan jurnal-jurnal bahan bacaan yang berkaitan dengan pasien, berkaitan dengan hal-hal yang kutanyakan, ataupun penjelasan setiap tindakan maupun perencanaan dalam satu shift ini.
Itulah, ketika clinical practice ini menjadi sebuah ladang pentransferan dan kaderisasi. Masih terngiang seorang perawat memberikan komentarnya mengenai “orienteer” yang di preceptorinya hari ini.
“Saya sedang bekerja dengan orienteer saya, dia adalah generasi perawat untuk berikutnya, maka menjadi tanggung jawab saya untuk mengajarkan hal-hal yang bermanfaat dan baik buat dia. Karena ketika dia mendapatkan manfaat maka dia akan menjadi perawat yang baik untuk melanjutkan profesi ini”
Ach…indahnya jika semua perawat pembimbing berkata seperti itu. Ketika di cetak dengan cara yang indah, dengan tangan-tangan yang professional, maka generasi selanjutnya akan berkelanjutan. Memperlakukan penerusnya dengan baik. Sesuai nilai kaderisasi. Bukan tambahan “SDM”

Jumat, 15 Februari 2013

Traveling Addictive 5 - Hostel

Mengawali menyalurkan keinginan terpendam untuk jalan-jalan ke LN akhirnya terwujud juga setelah kesempatan sekolah yang aku dapatkan di Eropa ini. Perjalanan liburan tahun baru selama 2 minggu kemarin (2012) saya lakukan ke 3 negara, belanda-belgia-paris. Selama 12 hari, saya habiskan waktu keliling menyambangi kota-kota di 3 negara tersebut. Karena ini pertama kalinya mencoba ber-traveling, persiapan sebisa saya lakukan sematang mungkin, persiapan baik rencana perjalanan, tempat-tempat yang akan di kunjungi, penginapan, transportasi yang di gunakan, saya susun sedemikian rupa supaya mempermudah perjalanan ini.
Urusan penginapan menjadi hal yang sangat penting saya persiapkan jauh-jauh hari karena mengingat liburan akhir tahun ini kata temen-temen kadang pihak hostel menaikkan harga untuk mendongkrak pendapatan. Akhirnya aku booking hotel jauh-jauh hari sebelumnya. Berbekal informasi dari beberapa teman yang sudah melakukan perjalanan sebelumnya, akhirnya aku diberikan website yang katanya kalau beruntung bisa mendapatkan hotel yang murah tapi bagus.
Booking.com dan hostelword.com saya ublek-ublek sampai mata pedes…disana tersedia informasi banyak penginapan yang ditawarkan. Mulai dari yang kelas atas hingga kelas bawah. Semua lengkap dengan informasi nama hostel, alamat, petunjuk arah, peta lokasi, fasilitas yang ditawarkan hingga foto-foto ruangan didalam hotel maupun hostel tersebut.
Kebetulan perjalanan kali ini saya lakukan bersama dua orang teman lainnya, satu perempuan dan satunya lagi laki-laki. Akhirnya saya putuskan untuk membooking hostel-hostel yang menyediakan kamar mix dormitory. Mix disini berarti didalamnya boleh cowok maupun cewek, bebas. Hal ini saya lakukan juga karena setelah mempertimbangkan harga, ternyata hostel dormotiry jatuhnya lebih murah dibandingkan yang lain.
Melakukan booking yang hanya melihat pemaparan via tulisan dan gambar-gambar di internet serta kadang sedikit tanya jawab via email ke pengelola hostel, menjadikan seperti membeli kucing dalam karung. Ada harap-harap cemas semoga hostel yang di booking memang memiliki fasilitas sebagus yang di paparkan dan ditunjukkan di gambar-gambar tersebut.
Berbekal print-print’an tanda booking yang disitu tercantum nama siapa yang booking, fee tanda jadi dan besaran sisa euro yang harus dibayar serta direction bagaimana menuju ke hostel tersebut. Misalnya, dari setasiun central A kemudian kamu naek metro subway jalur C, turun di stasiun B, keluar ganti bus no 26, turun di halte D, jalan lurus kearak gedung tertinggi di kanan jalan, maka anda akan menemukan hostel X dibelakang gedung tersebut. Seperti itu barangkali salah satu contoh petunjuk yang mereka berikan. Dan kadangkala mereka (pihak pengelola hostel) juga memberikan beberapa alternative lain.
Dalam hal petunjuk arah ini, sebaiknya di ikuti saja baik-baik, karena saya punya pengalaman tidak mengikuti petunjuk arah yang ternyata jalannya jadi jauh. Ceritanya seorang temen memiliki gadget apple yang sudah di install aplikasi GPS, jadi bisa mendeteksi keberadaan dan arah hostel, jadilah kemudian kami tidak memperdulikan petunjuka arah dari hostel yang diberikan, namun kami memberikan tanda pada hostel yang kami temukan di GPS tersebut dan mengikuti jalan yang kami tentukan sendiri. Sampai di hostel sich hostel yang bener, namun jauhnya itu gak ketulungan….hehehe alias muter-muter gak jelas gitu, padahal dengan bawaan tas ransel ala backpaker’an yang Gedhe dan berat….
Selama 12 hari perjalanan saya, setidaknya ada 9 hostel dan 2 hotel saya inapin. Dari 11 tempat penginapan tersebut harganya bermacam-macam, dari 19 – 34 euro. Dan semuanya memiliki cirri khas dan kelebihan disamping kekurangannya masing-masing. Ada hostel yang di belanda (Amsterdam), harganya cukup terjangkau, 19,5 euro. Di daerah Slotermeerlaan 131, Amsterdam, Netherlands, namane hotel slotania. Di hostel ini banyak sekali menyediakan sarapan paginya, banyak pilihan roti, dan aneka macam selai, jus buah, telur, daging-dagingan, dan susu. Pikirku karena aku gak ngambil daging, akupun ngambil telur 4 dan roti, susu, serta jus buah. Itung-itung gak mau rugi, jadi sarapan pagi benar-benar kenyang telur. Hehehehe. Eh lihat temenku, ternyata dia makan telur 5 butir… jadi, gak nyesel dech di hostel ini. Selain menu makan tersebut, hostel ini kamarnya bersih dan sudah lengkap segala macam handuk, kamar mandi didalam, sprei, sudah tertata rapi siap pakai.
Lanjut ke kota lain masih dibelanda (Utrecht) walaupun harganya 20 euro/kepala/malam, ternyata hostelnya jauh banget dengan hotel/hostel yang pertama. Ini benar-benar hostel. Dengan 14 tempat tidur, dalam satu mix dormotiry, kasihan juga lihat temenku yang perempuan, namun bodo amat, dia bilang enjoy-enjoy saja, karena sudah terlanjur, apa mau dikata. Kelebihan di hostel ini kami diberikan menu makan pagi, makan siang masak sendiri, dan makan malam juga disediakan, namun masak sendiri. Akhirnya, berbekal kemampuan masak-masak di asrama Portugal, akhirnya kamipun tidak mau rugi, masak-masak besar kami lakukan, dan makan sepuasnya. Masak nasi, goreng telur, bahkan kami bela-belain belanja sayur di supermarket hanya demi ngirit gak keluar duit buat jajan di warung makan. Hehehe. Walaupun temenku bilang, kamarnya kayak penjara namun dengan adanya fasilitas makan-makan sepuasnya masak sendiri ini kami menilainya sangat menguntungkan.
Berbekal pengalaman dengan dua hostel tadi, ternyata apa yang aku rasakan booking hostel seperti membeli kucing dalam karung itu benar adanya, saat akan pindah ke hostel berikutnya, hati ini penuh tanya. Seperti apa gerangan hostel yang akan kami inapin malam ini, baguskah? Nyamankah? Hangatkah? Dan berbagai pertanyaan lainnya.
Jadi, setelah sampai di hostel yang di tuju barulah kami biasanya akan merasa tenang dan bisa membandingkan dengan harga yang ditawarkan. Bahkan berkali-kali kami tertawa bersama di dalam kamar ketika menemukan hostel yang benar-benar jadulm engap, bau, tanpa spei, selimut buluk dan kamar mandi sharing di luar. Padahal ini jelas-jelas hostel yang direkomendasikan oleh seorang kawan. Alhamdulilahnya, disebelah hostel ini ada toko halal. Jadi mungkin itu nilai lebihnya.
Hotel yang paling mahal kami inapin kemarin adalah di Paris, memang hotel walaupun bintang 3. Dengan 3 tempat tidur, didalamnya, jalan kaki 15 menit ke Eiffel namun harganya 34 euro, tanpa sarapan pagi. Harga yang pantas, karena kami bisa menikmati menara Eiffel dari dekat.
Sehari sebelum hari terakhir perjalanan, seorang teman yang bertanggung jawab di paris, sudah membooking hotel yang memiliki fasilitas laundry, ide yang bagus dan sangat membantu. Jadi, kami semalaman setelah lelah jalan-jalan kegiatannya ada mencuci baju-baju kotor yang sejak berhari-hari kami tumpuk dan simpan di tas ransel, hanya butuh tak lebih dari 60 menit, pakaian sudah kering dan wangi. Bahkan seorang teman sempat-sempatnya menyetrika juga.
Jadi, intinya…ketika jalan-jalan kemarin, booking hostel/hotel sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari, mencarilah hostel yang memberikan penjelasan maksimal, karena mereka pasti tidak akan bohong dengan penjelasannya. Selain itu, pengalaman saya menunjukkan bahwa sebaiknya carilah hostel yang sudah berstandar “Hosteling Internasional” mungkin ini standarisasi untuk hostel-hostel di seluruh dunia, karena dengan begitu, hostelnya tidak abal-abal seperti yang kami temukan di hari terakhir di Paris. Setiap hostel memiliki cirikhas, kelebihan dan kekurangannya masing-masing, namun penginapan hanya sebatas tempat tidur sejenak melepas penat. Selebihnya kan jalan-jalannya.
Jadi enjoy saja…!!!

Senin, 14 Januari 2013

Memulai Perjalanan

Memulai sebuah perjalanan membutuhkan kesiapan tersendiri, termasuk didalamnya adalah bagaimana memutuskan barang-barang apa saja yang akan dibawa. Karena kadang kala, keputusan ini sangat penting di kemudian hari terutama ketika perjalanan yang akan di lakukan membutuhkan beberapa hari lamanya.
Ketika memutuskan perjalanan kemarin, aku memutuskan hanya membawa tas punggung saja yang berisikan beberapa lembar kaos, satu celana panjang, pakaian dalam dan kaos kaki, namun karena beberapa hal sehingga aku putuskan untuk membawa peralatan laptop dan kabel-kabelnya, mungkin terakhir ini bukanlah peralatan wajib yang harus dibawa karena ternyata membawanya begitu memberatkan. Kemudian ditas punggungku juga aku tambah beberapa alat mandi dan wangi2an. Hanya itu saja.
Perjalanan di benuai Eropa pada musim dingin, khususnya di Belanda ternyata membuatku harus menyiapkan penghangat diri, akhirnya aku putuskan untuk membawa double jacket, dan aku pake sekaligus, sehingga tidak menyebabkan tasku semakin gedhe karena dah cukup di kenakan dan beres. Bahkan karena aku takut kedinginan, akhisnya aku pakai celana double (termasuk thermal), kaos double, kaos kaki, dan jacket double. Akhirnya hangat dech. Mungkin ini salah satu tips pas jalan-jalan di musim dingin, karena pakaian yang dibawa bisa di pakai sekaligus sebagai penghangat. Sampai dibelanda alangkah malangnya aku karena ternyata di Kota Amsterdam hujan sepanjang hari, matahari atau bisa dikatakan bukan matahari karena hanya Nampak langit terang yang dimulai jam 8 pagi dan langit menjadi gelap lagi pas jam 5 sore. Bisa dikatakan hanya 7 jam saja jalan-jalan siang hari, selebihnya jadinya jalan-jalan malam.
Karena hujan yang terus mengguyur, walaupun gerismis kecil-kecil namun menyebabkan basah juga, Alhamdulillah jaketku tidak tembus air, jadi bisa dipakai sebagai jas hujan dech, walaupun karena begitu lamanya jalan-jalan, foto-foto dan menikmati indahnya kota ini menyebabkan celana ikut basah, sepatu dan kaos kaki juga basah. Tapi tetap menyenangkan tentunya.
Hal yang ternyata membuat jalan-jalan di musim dingin dan hujan menjadi menyenangkan adalah adanya penghangat ruangan di setiap hostel yang aku tumpangi, dengan penghangat ini aku bisa mengeringkan pakaian-pakaianku yang basah, bahkan sekalian aku cuci, aku kering-keringkan dan aku balik-bali…hehehehe. Tentunya pas di hostel itu penghuninya tidak banyak, kalau banyak penghuninya aku harus tahu diri, karena hal ini akan menyebabkan udara yang di hirup menjadi bau-bau pakaianku tentunya. Dari hal tersebut, aku bisa bertahan walau dengan beberapa lembar pakaian saja yang aku bawa. Sungguh menyenangkan perjalanan-perjalanan ini, menikmati setiap moment yang tentunya tidak akan terulang lagi, walau kadang kesasar, hilang jalan, terdampar ditengah malam yang super dingin dan hujan, tanpa tahu alamat hostel, mau telpon ke petugas hostel namun provider HP sudah tidak sama, mau tanya orang namun bahasa mereka tidak di pahami karena mereka tidak menguasai bahasa internasional. Dan akhirnya muter-muter hingga menemukan jalur yang sebenarnya, walau sudah 2 jam lamanya dengan tas gendong segedhe gaban, sleeping bag, tas kresek isi makanan, payung yang sudah ringsek di terjang angin, ditengah guyuran hujan di tengah kota Brussel.

Traveling Addictive 4 - Rencana Perjalanan

Merencanakan perjalanan tuch kadang mengasyikkan dan kadang menyita banyak waktu. Rencana perjalanan atau lebih kerennya sering di sebut sebagai itinerary, ini menyangkut detail sebuah perencanaan ketika seseorang ingin mengunjungi suatu tempat.
Membuat itinerary tuch susah-susah gampang, apalagi perginya rame-rame dan harus mengakomodir keinginan banyak orang. Yang satu ingin negara ini dan itu, yang lain pengen mengujungi tempat ini lah, yang lainnya lagi pengen nginep di hotel, yang laennya setuju “ngemper”. Hal tersebutlah yang kadang menjadikan rencana perjalanan batal atau bahkan perjalanan menjadi terasa garing ketika salah satu orang tidak setuju. Namun, demi menghindari batalnya rencana perjalanan, ada baiknya berikan tanggung jawab bagi setiap anggota group perjalanan.
Beberapa hari kedepan, rencananya aku bertiga sama temen2ku ingin menghabiskan liburan akhir tahun mengunjungi beberapa negara. Hal yang pertama kami lakukan adalah menentukan negara tujuan, hampir satu bulan lamanya kami berdiskusi via facebook dan bbm membicarakan negara tujuan. Aku sich yang kebetulan belum pernah jalan-jalan ngikut saja terserah mau kemana, yang penting jalan dan murah. Hehehe…namun tidak sampai disitu ternyata, karena pengalaman kami berjalan bersama ternyata kami kebanyakan menghabiskan waktu hanya untuk jeprat-jepret nggak jelas dan akhirnya satu tempat tujuan membutuhkan banyak waktu hingga tempat yang menarik terlewatkan.
Berpegang dari pengalaman tersebut, kami merencanakan untuk membuat itinerary lebih detail lagi termasuk jadwal panduan berikut waktu kalau perlu menit-menitnya. Sekalian belajar disiplin gitu ceritanya. Satu hal juga yang kami lakukan adalah membagi person in charges (PIC) untuk tiap-tiap negara.
PIC ini akan bertugas untuk mengeksplore negara tujuan sebaik mungkin dan sedetail mungkin, dari mulai tempat-tempat menarik yang wajib dikunjungi, transportasi yang ada di negara tersebut, harga-harga murah hingga makanan dan tempat ibadah. Dengan melakukan hal seperti ini, menjadikan kami tidak sekedar mengandalkan satu pihak namun kami merasa bekerja sama dan saling memiliki tanggung jawab. Kebetulan kami hanya merencanakan mengunjungi 3 negara secara berturut-turut dan setiap negara memiliki PIC masing-masing.
Setelah di sepakati terbentuknya PIC bagi tiap2 negara, dan sepenuhnya tanggung jawab dari detail perjalanan dan booking hostel ditangani oleh PIC masing2 negara. Hal berikutnya yang tentunya wajib dilakukan PIC adalah searching sebaik mungkin dan sebanyak mungkin informasi mengenai negara tujuan.
Rekomendasi yang kami dapatkan pertama yang sebaiknya dilakukan adalah menghubungi kawan-kawan Indonesia yang kebetulan study di negara bersangkutan. Atau langkah terakhir adalah menggunakan jasa pertemanan social yang lain seperti facebook, twitter, atau group2 pertemanan social lainnya.
Bukanlah hal yang mudah menghubungi teman disebuah negara dan mengatakan ingin berkunjung. Bayanganku adalah seperti berkunjung di saat lebaran, “eh gw mau ke t4 loe ya, silaturahmi…” tidak semudah itu. Mereka kadang memiliki urusannya sendiri, atau bahkan mereka juga sedang merencanakan perjalanan diwaktu tersebut. Jadinya, hal yang paling penting dilakukan menurutku adalah bukan meminta tumpangan, tetapi meminta atau mengkonfirmasi hasil temuan detail mengenai tempat tujuan pada seorang teman yang sudah tinggal lama di tempat tersebut. Menurutku akan lebih terlihat kita terlihat benar-benar niat untuk jalan2. Alangkah beruntungnya jika teman tersebut menawarkan tumpangan, tetapi sebaiknya berusahalah mencari hostel yang murah. Walaupun banyak traveler ala backpacker yang sudah memiliki komunitas dan mereka biasanya akan dengan welcome menerima tamu asing bahkan memberikan tempat bagi tamu2nya untuk singgah dan menginap ditempatnya. Hal ini karena mereka saling take and give, suatu saat kalau dia membutuhkan tumpangan berharap diberikan tumpangan juga. Cara seperti ini dapat dilakukan dan bisa di searching di beberapa website mengenai informasi housmate2 dan biasanya membutuhkan waktu paling tidak 1 bulan sebelumnya. Kami tidak menggunakan fasilitas ini karena kami bertiga dan bisa share hostel murah.
Akhirnya, itinerary pun dikumpulkan dari masing-masing PIC, booking hotel disetiap negara sudah dilakukan oleh masing-masing PIC. Sepenuhnya kami saling memberikan rasa percaya atas tanggung jawab PIC tersebut. Dan…waktu jalan-jalanpun tiba. 21 Desember 2012 hingga 3 Januari 2013.

Senin, 07 Januari 2013

Melihat Islam di Semenanjung Iberia

Masih ingatkah berapa lama kehidupan dan cahaya islam menerangi semenanjung Iberia? Atau lebih tepatnya dari abad berapa – abad berapa? Sesuai dengan Wikipedia yang pernah aku baca, antara tahun 711 – 1492 Islam sudah bercaya di bumi Andalusia ini. Hampir 7 abad lebih. Baiklah, aku tidak akan membicarakan mengenai sejarah, karena kadang aku sendiri suka lupa dengan tahun2 bersejarah. Jadi intinya begini, 7 abad islam telah menorehkan sejarah di semenanjung ini. Islam telah menciptakan kemakmuran dan pondasi kehidupan pada tatanan hidup yang lebih baik bagi bangsa eropa utara ini. Katakanlah, setelah abad 15 atau 16 itu islam telah benar-benar dilenyapkan dari semenanjung Iberia. Disana kemudian mulai dibangun banyak gereja. Setiap blok ada gereja. Hal ini hanya ingin menunjukkan bahwa begitu religiusnya penguasa saat itu? Atau hanya ingin menunjukkan kesombongan dan keangkuhan semata? Karena nyatanya, sekarang ini paling banter hanya satu gereja yang masih active sengan jemaahnya yang bisa diitung. Dan bangunan yang lain ditinggalkan begitu saja dengan kedinginan dan keangkuhannya.
Sekarang ini abad 21, kebanyakan warga negara di semenanjung Iberia ini menyatakan dirinya atheis, tidak beragama. Dari kapan mereka menyatakan hal itu? Kembali membuka Wikipedia dan dikatakan bahwa sejak abad 18 di eropa sudah di kenal adanya aliran atheis, dan bisa jadi Portugal dan Spanyol yang sebelumnya adalah semenanjung Iberia juga sudah mengenal atheis.
Jadi kalau dihitung, sejak diusirnya islam di semenanjung Iberia hingga aliran atheis muncul hanya berkisar 2 abad saja. Sebuah realitas yang cukup membuka mata dan hati bahwa ternyata Islam lebih bisa bertahan lama dibandingnya dengan kepercayaan lain.
Sejak abad 18 hingga sekarang hampir 3 abad sudah, dan bahkan orang2 di sini lebih terbuka. Dosenku yang seorang atheis dengan terang2an mengatakan bahwa “saya atheis”. Namun demikian, kenyataan yang terjadi sekarang adalah: setelah 3 abad mereka bertahan dengan pengaruh atheis ini, kebanyakan dari mereka kemudian mencari nilai-nilai kebenaran dan karena merasa ada yang kosong di sanubarinya, hingga kemudian mulai memperdalam ilmu mengenai spiritualitas.
Seperti dosenku di mata kuliah advance clinical nursing, beliau menyampaikan dengan sangat bagus mengenai konsep holistic nursing, dengan konsep Virginia Henderson yang mantap. Dan di akhir kelasnya, beliau menanyakan kepada kami mengenai bagaimana kalian melakukan intervensi keperawatan dengan mempertimbangkan nilai spiritualitas. Professor ini menyampaikan bahwa, saat ini di Portugal khususnya, banyak ilmuwan snagat consider mengenai hal ini. Nilai spiritualitas dipandang sebagai nilai yang bisa menguatkan seseorang di akhir-akhir kehidupannya. Dalam hati aku berkata, harusnya sejak sejak lahir, nilai-nilai spiritualitas sudah ditanamkan Prof, hingga kematian pun nilai-nilai ini akan terus dibawa.

Jumat, 04 Januari 2013

Mobility University-nya Beasiswa Erasmus Mundus

Program beasiswa Erasmus Mundus memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk kuliah di lebih dari dua universitas dalam satu program. Beasiswa ini memang diidentikkan dengan mobility university. Yang namanya mobility university mahasiswanya diberikan fasilitas akses ke universitas-universitas yang tergabung dalam konsorsium dari setiap program ke Negara yang berbeda. Sebagai contohnya program master emergency dan critical care nursing, anggota university konsorsium-nya adalah University of Oviedo (Spanyol) sebagai coordinator konsorsium, Helsinky Metropolia Applied Science University, Algarve University (Portugal) dan Politechnic of Santarem (Portugal).
Di semester pertama, aku sudah merasakan hal itu. Diawal-awal perkuliahanpun sudah terasa berbeda. Dosen-dosenya dari berbagai universitas tersebut diatas yang mengajar. Ada yang datang langsung tatap muka atau melalui video conference. System signal dan jaringan internet yang memadai dibutuhkan untuk memperlancar program pengajaran seperti ini.
Dengan diberikannya kesempatan untuk menempuh pendidikan diberbagai university yang berbeda dan Negara yang berbeda, memberikan banyak hal yang bisa dipelajari. Seperti system pendidikan, kultur, lingkungan, bahasa, dan masih banyak lagi. Bahkan sejarah dari setiap tempatpun dipaparkan.
Hal yang menarik lainnya adalah misalnya pindah universitas maka diwaktu awal-awal yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk jalan-jalan mengeksplore tempat-tempat di daerah tersebut. Bahkan dari sekolah menyediakan bus yang siap mengantar dan menunjukkan tempat-tempat menarik dan bagus. Dosen-dosen pun sangat antusias ketika mengantarkan kami mengunjungi berbagai tempat pariwisata dan mengenalkan kebudayaan, kultur dan sejarah dari kota tua disekitar tempat yang ada.
Tak kalah menariknya adalah sambutan mereka yang selalu mengadakan pesta makan dan minum-minum. Mungkin ini sudah menjadi tradisi di LN untuk menyambut tamu mereka akan mengadakan acara party2 ini. Walaupun bukan menjadi bagian kebudayaanku, namun aku mencoba untuk menghargai undangan dan acara mereka. Walaupun setelah sampai di tempat acara aku tidak bisa ngapa-ngapain (tidak bisa makan, tidak bisa minum karena semuanya diharamkan) namun berkumpul bersama mereka memberikan pengalaman menarik tersendiri.
Untuk beberapa rekan yang ingin mencoba keberuntungan mengikuti program ini, aku ada info dari status seorang teman di FB, ini copy-pastenya.
Untuk pengenalan, apa itu program beasiswa Erasmus Mundus? silahkan kunjungi http://emundus.wordpress.com/, atau langsung cek ke web-nya sambil mempelajari program yg ditawarkan http://eacea.ec.europa.eu/erasmus_mundus/results_compendia/selected_projects_action_1_master_courses_en.php
untuk mendukung semangat, jangan lupa beli buku ini http://emundus.wordpress.com/2011/07/18/beasiswa-erasmus-mundus-the-stories-behind/ dan yang terbaru http://rindupulang.blogspot.com/2012/11/berbagi-rasa-eropa.html dan http://www.youtube.com/watch?v=a5X4f3W-UGQ Selamat mencoba…

Kamis, 13 Desember 2012

Makanan halal dan non halal serta justifikasinya..

Kalau merencanakan menjadi warga internasional, persiapkanlah segudang jawaban mengenai pertanyaan seperti judul tulisan ini. Tidak usah jawaban yang njelimet dan membutuhkan dahi berkerut karena saking beratnya, namun jawaban yang simple-simple saja. Kebanyakan mereka akan bertanya karena memang mereka belum pernah tahu dan mereka juga baru kali ini bersinggungan dengan manusia yang berbeda agama. Jadi jangan merasa diintimidasi atau rasisme, namun mereka memang ingin tahu.
Kalau di Negara kita yang warga negaranya multi agama mungkin akan sangat mudah menjumpai perbedaan-perbedaan dan secara tidak langsung kita akan menjadi toleran dan sudah bisa memahami. Namun bagi mereka yang hidup di Negara yang bukan multi agama, mereka memang benar-benar tidak tahu. Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, mereka ingin tahu dan tugas kita hanya menjelaskan semampu kita. Tidak usah terbebani hingga menginginkan mereka merubah pandangan, sekedar menjelaskan saja. Aku sudah sering membaca diberbagai buku perjalanan dan pengalaman tinggal di multicultur, seperti bukunya Hanum misalnya. Dibuku tersebut juga disentuh mengenai keingintahuan temen kerja suaminya Hanum mengenai makanan halal dan pertanyaan yang berhubungan dengannya. Dan akupun sudah memperkirakan bahwa nantinya aku akan mendapatkan pertanyaan yang sama.
Namun, ternyata menjelaskan itu tidak mudah. Butuh ketelatenan dan kesabaran. Kadang aku merasa diintimidasi dan diinterogasi, padahal ternyata mereka memang antusias pengen tahu. Dan mereka dengan jujur, “saya benar-benar belum pernah mendapatkan konsep mengenai makanan halal, jadi tolong di jelaskan”…atau seorang colega yang menanyakan “kenapa gak ikutan minum bir? Wine? Kalau gak boleh minum kan boleh mencicipi…” bahkan kadang pertanyaan akan sampai kepada hal-hal yang sifatnya sensitive dan membuat kuping memerah. Namun percayalah, bahwa itu bukan karena mereka ingin memojokkan dan tidak suka dengan kebiasaan kita (muslim) namun karena mereka ingin tahu.
Kalau dosenku mereka menanyakan hingga bagaimana perasaan ketika berhubungan dengan pasien yang lain agama, apa definisi perbuatan yang baik dan dibolehkan dan justifikasi kenapa tidak boleh minum alcohol.
Kadang mereka memang cukup kritis dan aku hanya mencoba menjawab setahuku saja, ya maklum karena aku tidak tahu mengenai hadiz jadinya ya aku jawab dengan bahasaku sendiri. Seperti mengenai halal dan non halal. Bahwa dalam Al-Quran sudah ditulis mengenai hal-hal tersebut, tugas saya hanya mengikuti peraturan yang sudah ada. Hal-hal yang dilarang juga sudah tercantum, dan harus diikuti.
Makanan halal itu dibagi menjadi dua, yaitu cara menyembelihnya dan asal makanannya. Menyembelih harus dengan cara islam, dengan membaca bismillah. Bahasa yang sering aku gunakan adalah “Kill without bismillahh…atau kill with bismillah” dan mereka akan ngangguk-ngangguk tanda mengerti. Hal tersebut menyebabkan daging ayam atau daging sapi menjadi halal atau tidak halal. Satu lagi dari asal makanannya. Makanan yang mengandung babi, unsure-unsur babi serta alcohol juga dilarang karena tidak halal.
Mengenai justifikasi, kadang susah juga menjelaskannya. Karena mereka sukanya mendapatkan jawaban yang rasional. Jawaban yang biasanya aku pake buat menenangkan mereka adalah, kalo alcohol pasti akan menyebabkan mabuk, sedikitpun saya minum pasti akan mabuk karena tidak pernah sama sekali. Trus aku tambahkan saja, mungkin untuk kesehatan kalo di negaraku ada konsep minum air putih 8 gelas per hari, kalo kalian 8 gelas bir per hari ya…dan kamipun tertawa. Menganai babi..aku masih susah menemukan jawaban yang mudah di terima. Aku bilang saja, di Al-Quran dikatakan seperti itu, sambil senyum.
Bahkan kadang perbincangan menjalar kehubungan interpersonal antara perawat dan pasien. Dosenku yang mengatakan dirinya atheis menanyakan, bagaimana perasaan kamu saat bersentukan atau berinteraksi dengan orang yang beda agama. Mungkin bagi mereka yang baru berkenalan dengan orang yang berbeda agama atau kepercayaan akan merasa lain dan banyak pantangan dalam hubungan antar manusia juga. Namun bagiku, yang sudah terbiasa dengan multi cultur dan multi agama dalam kehidupan sehari-hari menjadikan nilai-nilai toleransi dan saling memahami antar sesame sudah terjalin.
Bagi mereka mungkin sebaliknya. Mengenai hubungan dengan pasien aku katakana, aku tidak pernah membawa agama dan kepercayaan dalam hubungan dengan pasien. Saya tidak memandang agama dan kepercayaan mereka, saya hanya memandang bahwa pasien itu adalah individu yang membutuhkan bantuan saya. Mereka punya nilai tersendiri itu urusan mereka, karena pada dasarnya manusia itu unik dan memiliki kepercayaannya mereka sendiri. Dosenkupun mengatakan bahwa dia sangat senang berinteraksi dengan multicultur, dia bisa banyak belajar mengenai toleransi. Dia mengatakan bahwa dengan hubungan interpersonal seperti inilah ternyata sebaik-baiknya pembelajaran hidup.
Satu hal yang aku tarik pelajaran dari peristiwa percakapan mengenai makanan halal, non halal, ataupun perbincangan mengenai perilaku keagamaan membuatku menarik kesimpulan bahwa mereka menjadi seperti ini karena mereka sejak kecil tidak dikenalkan mengenai agama. Mereka sama sekali tidak pernah menerima pembelajaran mengenai pentingnya agama apalagi diskusi mengenai agama. Orang tua dan nenek moyang mereka membawa kebiasaan antipati terhadap agama sehingga kebiasaan-kebiasaan itu menjadi kultur hingga sekarang. Dan bisa dibayangkan mengenai generasi muda-muda saat ini yang banyak menghabiskan waktunya dengan hura-hura, party, tanpa arah dan tujuan yang jelas. Bisa dibayangkan apabila nilai-nilai agama diperkenalkan dan di tanamkan, maka sangat mungkin dan bukan mustahil jika mereka akan beragama dan lebih bisa menghargai hidup dan lebih beradab.
Aku sangat bersyukur sudah dilahirkan di keluarga yang menanamkan nilai-nilai agama sejak saya kecil. Agama Islam yang sangat aku cintai ini mengajarkan mengenai toleransi, lingkungan di Indonesia yang multi agama menjadikanku belajar banyak mengenai perbedaan dan perilaku mereka yang tidak sama namun memberikan nilai-nilai tersendiri.

Jumat, 07 Desember 2012

The Real Master is....

Mengenang pekerjaanku dulu, ternyata baru aku sadari. Disanalah sebenarnya aku menimba ilmu yang sesungguhnya hingga aku mendapatkan program master ini. Bersama merekalah aku banyak belajar dan mendapatkan pengalaman. Sekarang, aku mendalaminya dan memformulasikannya menjadi lebih ilmiah dan terstruktur. Selebihnya, disanalah aku mendapatkan the real master.
Mengenang kembali masa-masa itu, aku jadi teringat mengenai konsep staffing. Seperti disampaikan oleh seorang Prof di sini bahwa staffing atau pengaturan ketenagaan itu harus dilakukan oleh orang yang benar-benar mendalami tugas dan fungsi staff. Selain itu seorang “pengatur staff” juga harus mendalami staff tersebut sampai ke masalah psikologis dan type masing-masing individu.
Individu itu unik, masing-masing memiliki sisi yang laen. Selain itu, setiap staff juga memiliki soft skill tersendiri. Soft skill itu kadang sudah menjadi bawaan dan mengakar menjadi tabit dimasing-masing individu. Pengalamanku sendiri mengatakan bahwa, ketika aku tidak berada di “habitatku” aku tidak bisa berkreatifitas dan tidak bisa memberikan yang terbaik. Itu konsepku dulu.
Habitat di RS bagi perawat ya dibagi menjadi banyak unit, ada unit gawat darurat, unit intensive care, dan unit-unit yang laen. Personal opinion, namun berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa teman menunjukkan bahwa ketika seorang staff ditempatkan di unit yang bukan menjadi “habitat” aslinya, seseorang tersebut pasti akan mengalami masalah. Baik susah menyesuaikan diri maupun masalah yang laen. Hal ini tentunya akan berdampak pada performa dan outcome pelayanan.
Sebagai perawat ternyata memang mebutuhkan keikhlasan tersendiri, walaupun perawat yang merupakan point penting dari pelayanan kesehatan ini seringkali berada dalam jajaran yang terpinggirkan. Namun demikian, keikhlasan seorang perawat dalam memberikan pelayanan adalah keikhlasan murni sebagai manusia yang diciptakan untuk membantu dan saling melayani. Ketika tengah malam, dingin menusuk tulang, perawat dengan jiwa ikhlasnya mendengarkan keluhan pasien, menemani pasien yang merasa kesepian ditinggal keluarganya tidur, memberikan sentuhan terhangatnya, dan dengan hati lapangnya memberikan kekuatan bagi pasien yang kehilangan harapan. Semua perawat lakukan.
Disana pulalah aku mengenal konsep skill mix, dimana konsep skill mix ternyata sudah kami kenal dan kendalikan sedemikian rupa sehingga pelayanan tetap bisa dijalankan sesuai dengan semestinya. Skill mix yang kami punya sangat beragam, level pendidikan, level sertifikasi, bahkan kami punya dari zero to hero. Semua ada. Namun demikian, tanpa kami sadari, konsep skill mix tersebut sudah kami lewati tanpa adanya celah. Kami sangat menikmati, walau terkadang sangat kami rasakan kelelahan dan rasa capek. Namun kebersamaan ternyata melebihi segalanya.
Selain itu, kami juga belajar mengenai nursing care delivery system, walaupun aku baru mengenal istilah tersebut sekarang, setelah studi literature secara sistematis, namun ternyata kami disana sudah melakukannya dengan baik. Kami mempertimbangkan skill mix, kebutuhan pasien, level pasien, ratio perawat dan pasien serta lingkungan kerja yang penuh dengan disiplin ilmu. Kami sebagai perawat selalu menetralkan diri, selalu mengedepankan kepentingan pasien bahkan diatas kepentingan kami sendiri.
Disana pulalah aku mengenal adanya nursing relationship dan health working environments. Semua istilah2 dan model2 yang aku pelajari ternyata secara tidak langsung sudah aku dapatkan disana. Bersama mereka, teman2 terbaikku. Teman-teman yang selalu mendukung satu-sama lain, bersama dalam team work, bersama memberikan yang terbaik bagi pasien.
Atau bahkan teori mengenai transport pasien intra dan inter hospital yang disampaikan oleh seorang master dari RS setempat. Dengan semangatnya beliau menyampaikan guidelines transport pasien, hal2 yang harus di perhatikan, alat2 yang perlu disiapkan. Bahkan hal semacam itu baru aku denger ternyata ada teorinya, karena aku dah melakukannya berpuluh kali dan semua berjalan dengan baik. Karena kami belajar dari pengalaman dan mempersiapkan semuanya dengan seksama. Seperti kebutuhan oksigen, kebutuhan obat-obatan emergency, kebutuhan peralatan intubasi. Semua yang disampaikan, walau baru denger kalau ada guidelines-nya tapi semua sudah kami lakukan.
Kawan, bersama kalianlah sebenar-benarnya proses master ini dijalani, bersama kalianlah aku mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini. The real master is by doing……miss you all as always..
Selamat buat temen2 perawat Indonesia, you are the real master….

Selasa, 04 Desember 2012

Konggress III dan Lingkar Diskusi PPI Portugal 2012

Pada sabtu 1 Desember 2012 kemarin, tepatnya di Rua De Poca Distric of Braga, Portugal, PPI Portugal mengadakan konggress yang ke tiga, konggress yang berjalan cukup sukses dengan terpilihnya Denny Syamsuddin, mahasiswa program pasca sarjana University de Coimbra, menjadi ketua periode 2012/2013 kedepan.
“Perjuangan Belum Usai…” Begitulah uangkapan ketua terpilih Perhimpunan Pelajar Indonesia Portugal (PPI Portugal), Denny Syamsuddin, ketika di hubungi melalui account facebooknya, sesaat setelah dirinya diberikan amanah untuk menahkodai perjalanan kapal PPI Portugal ini.
Konggress ke-tiga PPI Portugal kali ini juga dibarengi dengan lingkar diskusi kepemudaan yang mengusung tema “Revitalisasi Pemuda Demi Membangun Indonesia Raya” menghadirkan pembicara dari berbagai lintas generasi. Sebut saja Prof. Dr. Wahyu Widodo, seorang professor dari Universitas Muhammadiyah Malang, yang merupakan narasumber dari generasi 60-an; A.R. Boyie Berawi, Koordinator PPI Eropa dan Amerika, PhD Student University of Porto, serta Denny Syamsuddin, praktisi/staff BUMN, Master student University de Coimbra, yang mewakili generasi masa kini.
Lingkar diskusi yang dihadiri oleh seluruh anggota PPI Portugal ini, berlangsung cukup menarik dan seluruh peserta terlihat active ambil bagian dalam setiap diskusi. Pemaparan materi oleh Prof. Wahyu yang membangkitkan kenangan masa lalu, belajar mengenai sejarah peran kepemudaan, serta peran pemuda di masa lalu, memberikan banyak gambaran mengenai spirit pemuda pada saat itu. Pemuda yang tangguh dan berjiwa pejuang ternyata menjadikan Indonesia sampai pada puncak kejayaan dan berhasil merdeka serta di akui dunia akan keberadaannya. Selain itu, Prof. Wahyu juga menyampaikan analisanya mengenai kondisi masa lalu dan masa kini, mengenai system kaderisasi yang belum dilakukan dengan baik, bahkan tidak ada lembaga khusus yang konsentrasi mengurusi masalah pengkaderan ini. Padahal menurut Wahyu, dengan system pengkaderan yang comprehensive dan holistic, akan menjadikan generasi penerus pemimpin Indonesia memiliki kesiapan mental dan spirit yang tidak diragukan lagi.
Masih menurut Wahyu, pemuda sangat di tuntut akan perannya untuk perubahan kedepan. Pemuda harus ikut berperan dalam melakukan perubahan system yang ada selama ini. Karena sitem yang ada saat ini merupakan system yang sudah cukup tua dan bahkan dapat dikatakan sudah kedaluwarsa. Menurutnya, ada dua jalan yang bisa dilakukan, peran formal dengan berkontribusi di pemerintahan sehingga bisa merombaknya dari dalam, maupun peran non-formal dari luar pemerintahan, seperti menyuarakan pendapat, melakukan kajian-kajian kepemudaan, dan yang lain.
Tidak adanya generasi penerus kepemimpinan muda, dilihat Denny sebagai kondisi yang disebabkan oleh karena feodalisme dan proses yang berlangsung lama mengenai kultur yang superior diantara generasi pendahulu. Maka dari itu yang harusnya disiapkan oleh negara Indonesia untuk mempersiapkan generasi-generasi penerus kepemimpinan di Indonesia kedepan adalah: diperlukannya pemuda yang nasionalis, amanah dan mampu menjaga idealism.
Nasionalis dinilai oleh Denny sebagai syarat mutlak kader muda penerus perjuangan, masalah yang ada saat ini dilihat Denny sebagai kondisi yang pemudanya sudah luntur akan rasa nasionalismenya, semangat berjuang sudah kendor karena pemuda lebih puas dengan kemudahan-kemudahan yang didapatkan (dimanjakan). Kemudahan yang didapatkan ini menurut Denny menjadikan pemuda kurang kompetitif dan enggan bersaing dan melakukan gebrakan-gebrakan perubahan.
Selain itu, pemuda yang mampu menjaga amanah dan idealism dinilai Denny sebagai pemuda yang memiliki kesiapan mental dan psikis untuk mengemban tanggung jawab perubahan dan kemajuan.
Secara normative, pemuda dilihat Denny, memiliki modal yang cukup kuat, yaitu pemuda itu pemberani dan terdepan, serta bersikap kritis. Modal inilah yang merupakan variable penting untuk menjaga kesiapan diri menjadi generasi pendobrak perjuangan. “Melanjutkan cita-cita para pejuang” nasionalis tidak mudah dibeli dengan uang. Walau demikian, menjaga idealism memang cukup membutuhkan spirit dan semangat yang tidak mudah. Selain itu, mahasiswa Erasmus Mundus SOSCOS dari Univeristy de Coimbra ini juga menyampaikan bahwa pemuda itu karakternya cepat puas, terlebih saat sudah menempati posisi tinggi dan kenyamanan.
Kelebihan dan kekurangan ini disampaikan oleh mahasiswa pasca sarjana Universitas de Coimbra ini sebagai bentuk analisanya mengenai kepemudaan dimasa kini. Hal tersebut diamini oleh B. Berawi yang menyampaikan bahwa “lawan” yang real jaman dahulu yaitu penjajah, kalau sekarang yang harus dilawan adalah hal abstrak seperti kemiskinan, pengangguran, korupsi dan lain sebagainya. Maka dari itu mahasiswa program doctoral degree ini menyampaikan kesimpulannya bahwa pemuda harus Cinta tanah air, memiliki jiwa nasionalisme dan cinta produk tanah air, serta terus berkontribusi dilingkugan dimana dia berada. Demi kemaslahatan bersama dan demi keberlangsungan perjuangan yang tidak akan pernah berhenti.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa sebagai mahasiswa baik didalam dan diluar negeri, belajar dengan baik adalah salah satu bentuk real menyumbang kemajuan Indonesia. Dengan belajar yang baik, maka dikemudian hari dipastikan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan sumber daya bagi kemajuan bangsa. Namun, selain hal tersebut, satu hal yang tidak kalah penting, penulis ingin mengatakan bahwa pemuda haruslah sehat, baik sehat fisik maupun sehat psikis. Sehat psikis termasuk didalamnya adalah kesiapan mental dan spiritual menghadapi dunia, tempaan-tempaan hidup menjadikan pemuda lebih menguasai “medan perang” dan tempaan spiritual menjadikan pemuda lebih siap akan ujian hedonism.
Selamat berjuang dan terus berkarya pemuda Indonesia.

Senin, 03 Desember 2012

Beasiswa dan Sistem Perbank-kan di LN (Portugal)

Mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ternyata membutuhkan modal juga. Dulu aku pikir semua akan di tanggung oleh si pemberi beasiswa, ternyata perkiraanku salah. Namun sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Hanya butuh proses saja untuk mendapatkannya. Sehingga akupun mengeluarkan modal untuk tiket perjalanan hingga mencapai universitas tempat aku belajar dan biaya satu bulan pertama hingga beasiswa diberikan. Sebenarnya pihak pemberi beasiswa memiliki budget untuk biaya perjalanan, hingga pengurusan visa dan yang lain. Masalahnya budget tersebut akan diberikan setelah mahasiswa sudah ditempat tujuan. Jadi mau tidak mau ya aku keluar modal juga. Ini yang aku katakana, tidak sepenuhnya salah.
Satu bulan pertama itulah setiap mahasiswa dengan biaya hidup dari kantong masing-masing diharuskan membuka rekening bank di negara setempat. Prosesnya memberikan pengalaman yang banyak mengenai perbank-an di luar negeri terkait proses pengajuan pembukaan rekening hingga proses beasiswa yang tidak kunjung turun juga.
Satu minggu pertama aku gunakan untuk mengumpulkan document-dokument yang dibutuhkan untuk membuka rekening. Ternyata baru aku sadari, kalau membuka rekening bank sebagai warna internasional itu tidaklah mudah. Karena banyak syarat yang harus dipenuhi. Bahkan ada beberapa bank pemerintah rekomendasi dari sekolah yang sepertinya “ogah-ogah-an” mengurusi masalah ini dan mereka seakan-akan mempersulit proses pembukaan rekening kami.
Syarat-syarat yang diperlukan termasuk didalamnya adalah keterangan dari sekolah tempat kita belajar, passport, keterangan tempat tinggal dan tax number (kalo di Indonesia NPWP). Dan kenyataan yang aku alami, untuk mendapatkan semua document inipun bukanlah hal yang mudah. Karena harus menunggu dan walaupun tax number (katanya hanya formalitas karena bukan warga negara), beberapa teman mengalami kesulitan untuk mendapatkannya.
Pengajuan di bank pemerintah yang seakan males mengurusi karena mungkin kurang menguntungkan bagi mereka, membuat kami berpindah ke bank swasta. Ada beberapa bank swasta di Portugal yang kami lihat. Ada Millenium Bank, Banco Espirito Santo (BES), dan Sandanter Totte. Karena yang paling dekat dengan asrama adalah BES akhirnya akupun memutuskan untuk membuka rekening dibank tersebut.
Prosesnya ternyata tidak seberapa rumit yang kami bayangkan, karena mereka membantu dalam pembuatan tax number, bahkan dengan document kami yang sudah lengkap mereka akan membuatkan account dalam satu hari. Bayangan akan dipersulit seperti di bank pemerintah itu lenyaplah sudah. Dan kamipun berhasil mendapatkan bank account dan langsung kami kirim ke coordinator konsorsium pemberi beasiswa, berharap uang beasiswa segera turun.
Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, beasiswa yang kami harapkan ternyata mengalami kendala. Entah apa yang jadi masalah, namun beasiswa baru keluar setelah berkali-kali kami bergantian mengirimkan email ke sekretaris konsorsium bahwa kami sangat membutuhkan beasiswa tersebut untuk membayar asrama dan bertahan hidup (yang sebenarnya emailnya kadang kami lebih-lebihkan untuk mendapatkan perhatian mereka). Dan Alhamdulillah, setelah hampir 1,5 bulan, beasiswa itupun turun. Jumlahnya cukup lumayan karena mereka memang memberikan budget untuk biaya perjalanan, pengurusan visa, biaya mobilisasi dan yang lainnya.
Dari pengalaman singkat mengenai pembukaan rekening dan masalah beasiswa tersebut diatas, kemudian saya bisa menarik pelajaran khususnya banyak hal terkait system perbank-an di LN. secara tidak langsung saya bisa mengatakan bahwa ada banyak hal-hal baru yang aku temui disini, dimaa di Indonesia menurutku akan sangat bagus jika system perbank-annya memiliki hal yang sama.
Satu hal pertama yang aku nilai sangat bagus dari Banco Espirito Santo (BES) adalah mengenai system kartu ATM. Kita di Indonesia sudah tidak asing lagi dengan kartu ini. Satu hal yang saya anggap penting adalah, bahwa BES memberikan ATM tersebut pada hari pembukaan, dan dua ATM lagi yang akan di kirim dikemudian hari. ATM yang dikirim dikemudian hari salah satunya berfungsi ganda (sebagai kartu debit dan sebagai kartu kredit) dan satunya lagi hanya sebagai kartu kredit. Jadi sekarang saya memiliki 3 kartu ATM yang berfungsi semuanya dengan satu PIN code dan sekaligus kartu kredit. Keuntungan dari hal ini adalah misalnya suatu saat terjadi kehilangan kartu ATM, si empunya tidak terlalu khawatir karena masih memiliki kartu cadangan, tinggal ganti PIN code saja, maka ATM yang hilang sudah terblokir dengan sendirinya. Dan tinggal telp ke customer services dan dia akan mengirimkan gantinya. Kalau di Indonesia, kehilangan ATM menjadikan si empunya harus telp call center untuk memblokir ATM, setelah itu harus datang ke kantor bank untuk mendapatkan ATM yang baru. Menurutku hal ini cukup effective dan membantu sekali. Untuk mencegah kemungkinan orang lupa kartu ATM-nya, jaringan mesin ATM di sini memberlakukan system dimana ketika mengambil uang atau transaksi apapun di mesin ATM, maka ketika transaksi sudah berakhir, yang akan dikeluarkan lebuh dulu oleh si mesin adalah kartu ATM, diikuti oleh uang dan terakhir adalah slip transaksi. Beda dengan beberapa kali pengalaman di Indonesia ketika yang keluar lebih dulu uangnya, maka aku ambil uangnya kemudian buru2 pergi, padahal atm masih ada di dalam mesin atm. Selain itu, mengenai kartu kredit, aku sangat terbantu dengannya karena memudahkanku untuk booking penerbangan domistik maupun internasional ketika aku ingin jalan-jalan keliling eropa.
Selain hal tersebut, ada pengalaman yang membuatku cukup puas dengan BES adalah, ketika waktu itu aku kesulitan mengenai operasional internet banking (karena dalam bahasa portugis) sedangkan aku ingin mencoba internasional transfer. Akupun memutuskan untuk telp call center, namun ditengah pembicaraan ternyata telponku habis pulsa. Alangkah senangnya diriku karena si call center telp balik dan dengan sabar menjelaskan kepadaku bagaimana langkah-langkah yang harus aku ikuti. Sungguh menyenangkan. Terlepas dari BES adalah bank swasta dan populasi di Portugal yang tidak banyak menyebabkan mereka harus memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumennya. Namun hal ini sangat bagus jika di ikuti oleh semua bank di Indonesia.
Mengenai beasiswa, pelajaran yang saya dapatkan adalah. Bahwa memang betul butuh modal yang ternyata tidak sedikit, karena beberapa teman ada yang hanya membawa seikit simpanan dan mengaharap beasiswa turun dengan segera. Namun ternyata kenyataan berbicara lain, hingga seorang teman ini harus mengirit dan meminjam beberapa teman. Satu hal lagi, setelah mendapatkan beasiswa gunakanlah beasiswa tersebut dengan bijaksana. Karena terkadang, untuk bulan-bulan selanjutnyapun masih juga ada keterlambatan pemberian beasiswa dari konsorsium.
Selamat mencoba applikasi beasiswa ya friends. Jangan pernah putus asa untuk mencoba, insyaAlloh ada pemberi beasiswa yang menunggu anda…hanya waktu yang akan menjawabnya.

Kamis, 29 November 2012

Pemuda Yang Sehat

Kalo banyak yang mengatakan bahwa pemuda adalah penggerak keberlanjutan dan kelangsungan pemerintah Indonesia kedepan. Aku sangat setuju sekali. Karena di pundak pemudalah dibebankan setumpuk permasalahan negeri yang tak dipungkiri layaknya seperti benang kusut.
Seorang teman dari Indonesia yang sedang melakukan penelitian post doctoral di Portugal mengatakan bahwa, pengkaderan seorang pemuda harus dilakukan secara bersama, sinergis dan tertata sejak di kampus. System recruitment dan penggeblengan melalui wadah-wadah organisasi intra maupun ekstra kampus hingga wadah pengkaderan pasca kampus yang harus menjadi tanggung jawab bersama.
Menurutku hal itu akan sangat wow dan membahana sekali ketika bisa wujudkan dengann nyata dan dilakukan dengan sepenuh hati dan di jiwai kebersamaan untuk memajukan Indonesia. Tidak kemudian banyak kepentingan baik politik maupun kepentingan pencitraan yang akhirnya hanya akan mencemari niat dan tujuan awal.
Satu hal yang aku pikir menjadi variable yang kuat adalah mengenai pemuda yang sehat. WHO sudah mengatakan sejak lama bahwa Sehat ternyata bukan hanya fisik, namun juga menyentuk psikis karena ternyata sehat itu harus menyentuh biso,psiko, social, cultural, dan spiritual. Secara comprehensive dan holistic terprogram dan bersatu padu tak bisa dipisahkan satu sama lainnya.
Sehat secara fisik sudah jelas kita ketahui, karena bisa kita lihat dan kita rasakan. Pemuda yang sehat secara fisik akan memiliki performa dan penampilan yang luar biasa. Namun sehat secara psikis itulah yang ternyata tidak kalah penting dan sangat mendukung performa pemuda ini. BJ. Habibie jauh-jauh hari ketika merumuskan visi dan misi Organisasi Cendekiawan Muslim Indonesia mengatakan bahwa organisasi ini akan menjadi tonggak kemajuan bangsa Indonesia, karena disinilah pemuda memiliki kemajuan di bidang iptek sekaligus imtaq.
Namun benarkan hingga sekarang visi dan misi tersebut ada pada setiap pemuda yang direncakan akan membangun bangsa Indonesia kedepan? Benarkan pemuda-pemuda ini memiliki kesehatan psikis yang baik?
Kesehatan psikis tidaklah selalu berfokus pada mental disorder maupun mental retardation atau bahkan psychiatric problem. Namun lebih dikhususkan disini adalah kebersihan hati, kesiapan mental capacity, kemurnian dan kelurusan niat, serta keberanian untuk maju.
Kebersihan hati dan kelurusan niat merupakan tonggak awal semua perjalanan akan dimulai, ketika semua diawali dengan langkah yang baik, maka dikemudian hari hasil dan pengaruhnyapun akan baik. Namun ketika semua diawali dengan niat yang tersembunyi, niat kepentingan pribadi dan duniawi maka hasil akhirnyapun pasti bertolak belakang.
Kebersihan hati ternyata sangat tampak pada perilaku sehari-hari. Banyak pemuda yang memiliki mental capacity dan kompetensi yang sangat bagus untuk dikembangkan bagi kemajuan Indonesia, namun hanya karena hati yang ternodai kepentingan duniawi hingga menjadikan langkah dan kebijakannya tidak disertai kemurniat niat dan kelurusan diri. Mari pemuda, kita mulai dari niatan dan membersihkan langkah dan perilaku kita.
Niatkanlah untuk kehidupan yang kekal nantinya. Bawalah bersama tanggung jawab ini menjadi keberkahan kita nanti dikehidupan selanjutnya. Kehidupan dunia hanya sesaat, kepentingan dunia hanya muslihat, yang kekal dan abadi hanya bersamaNya.. Sehatkan pemuda kita..

Selasa, 27 November 2012

Arti Keluarga

Membahas mengenai patient and family centered care hari ini membuatku lebih banyak mengetahui seberapa berartinya keluarga bagi pasien. Bagaimana keluarga akan memberikan support dan spirit bagi pasien, dan bagaimana seorang perawat harus memberikan space bagi keluarga untuk bersama pasien.
Keluarga memiliki arti yang sangat signifikan dalam setiap hidup seseorang, keluarga sebagai tempat kita lahir dan bertumbuh, keluarga sebagai tempat kita mengadu tangis dan tawa serta berbagi kebahagiaan dan bahkan keluarga sebagai tempat kita bertengkar dan mengadu masalah. Begitulah, keluarga sangat penting dalam sejarah hidup manusia.
Setiap individu ternyata memiliki definisnya sendiri mengenai seberapa berartinya sebuah keluarga. Setiap individu memiliki nilai dan bagaimana dia memandang sebuah keluarga. Dengan mengetahui nilai dan definisi keluarga untuk setiap individu atau pasien, perawat akan mampu meletakkan dimana posisinya berada dan siapa yang sanggup memberikan benar-benar spirit yang bermanfaat.
Prof mengatakan bahwa seandainya dunia ini sempurna, maka keluarga akan terdiri dari orang tua dan anak-anaknya. Itulah anggota keluarga yang sebenarnya dan sempurnanya dunia. Namun dunia ini dikatakan tidaklah selamanya sempurna, banyak hal yang tidak sesuai. Sejarah mengatakan bahwa keluarga tidak selalu berisi orang tua dan anak-anaknya. Banyak tipe keluarga keluarga yang eksis didunia ini. Ada keluarga murni, keluarga single parent, keluarga sejenis, dan bahkan keluarga dengan anjingnya.
Prof ini membawaku mengaruhi keluarganya sebagai contoh, beliau memiliki seorang kakak dan adik, dan seekor anjing yang mereka anggap sebagai saudara perempuan. Mungkin disini (eropa) sudah bukan hal yang aneh ketika mereka mengganggap bahwa anjing juga dianggap anggota keluarga. Bahkan temenku pernah cerita, ada beberapa orang yang sampai memberikan warisannya pada anjing.
Selama disini sudah sering aku melihat orang jalan-jalan dengan anjingnya, mereka bercengkerama bagaikan dengan anak-anaknya. Atau seorang laki-laki berjalan mendorong bayinya. Suatu yang kadang belum bisa di terima akal pikiran dan nilai social di Indonesia. Namun di sini sudah menjadi hal yang biasa.
Kembali mengenai masalah dukungan keluarga pada pasien yang sakit ICU, perawat sebaiknya melakukan pengkajian lebih dalam kepada pasien, siapa yang paling dianggapnya orang yang lebih bernilai dan penting dalam anggota keluarganya. Orang inilah yang paling memberikan pengaruh dan akan diberikan kesempatan untuk lebih lama menemani si pasien di RS. Dengan melakukan pengkajian ini, maka bisa dihindari adanya ketidak jelasan anggota keluarga khususnya yang memiliki hubungan dekat dan sangat berarti bagi pasien.

Sabtu, 24 November 2012

Sapalah aku..

Perasaan sendiri dan terasingkan (menjadi makhluk asing?) kadang dirasakan ketika berada jauh, beda jarak dan waktu. Ketika disaat temen deket tertidur lelap, disaat itu pula aku harus bangun, atau bahkan sebaliknya, disaat mereka sedang seriusnya mengajak ngobrol, disaat itu pula aku harus tidur karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Ketidak samaan waktu dan tempat inilah yang kadang menjadikan orang yang tinggal di LN berasa sendiri, berasa sepi dan sedih.
Pernah aku merasakan aku begitu sendiri, tidak ada lagi teman jalan, teman ngegosip, dan mencoba kirim berkali-kali sms atau blackberry messenger tapi gak ada yang balas. Saat itu yang dapat aku lakukan hanya online facebook atau membaca berita-berita dari tanah air. Online facebookpun ternyata teman-teman dekat tidak ada yang online. Ugh….sepinya dunia ini kurasakan.
Namun, beberapa saat kemudian ada blackberry messenger masuk. Jam 7 sore waktu portugal, mungkin di Indonesia sudah jam 1 dini hari. Seorang teman menanyakan kabar dan perkuliahanku. Subhanalloh…rasanya seneng banget walaupun setelah kucoba balas seorang temen ini tidak juga membalas mungkin dia melanjutkan tidur atau jaringan blackberry yang kurang baik. Namun yang jelas dia telah mebuatku merasa, kalau aku ini masih diingat olehnya. Terimakasih kawan…
Begitulah, hal kecil yang kadang lupa dilakukan atau enggan dilakukan. Namun ternyata memiliki effect yang positive bagi seseorang yang sedang mengharapkannya. Seperti aku, yang ternyata merasakan begitu hangatnya kehidupan ini jika ada seorang teman yang selalu dapat dijadikan tempat ngobrol, tempat saling ejek (contoh yang buruk…. ) atau hanya say hello dan tanya kabar. Itu sudah membuatku cukup merasakan kebersamaan dan saling memiliki.
Kadang kala memang sebuah pesan akan lama dibalas karena signal yang kurang bagus atau karena keterbatasan waktu pekerjaan dan tugas diantara dua pihak. Namun hanya dengan mengirimkan pesan tanpa mengharap balasan, kadang memberikan effect yang positive bagi si penerimanya. Sebatas menanyakan kabar, menanyakan kesehatan atau memberikan support, semangat dan motivasi atau bahkan sekedar menggoda ternyata memberikan sebuah pengakuan akan kebersamaan.
Aku bersyukur memiliki beberapa teman yang intents berkomunikasi, berdiskusi dan membahas sesuatu atau bahkan hanya sekedar saling ejek mengejek. Teman bagiku akan menambah semangat. Terimakasih teman..kau selalu ada untukku..mari kita teruskan silaturahmi, walau jarak dan waktu memisahkan kita.
Sapalah temanmu, walau jarak memisahkan kalian..

Selasa, 20 November 2012

Traveling Addictive 3 – Church dan bangunan Tua

Menjadi traveler tuch menjadi impianku sejak dulu, apalagi setelah “virus” Trinity menjangkitiku. Ketiga episode buku Trinity sudah aku lahap, buku-buku traveling yang lain juga sudah aku selesaikan, terakhir adalah Oktober 2010 aku menyelesaikan buku “99 Cahaya di Langit Eropa”. Buku yang mengenai perjalanan Hanum di benua biru ini membuatku ingin mengikuti jejaknya. Karena buku Hanum tidak hanya memberikan cerita perjalanan biasa namun memberikan lebih dari inspirasi dan mencari nilai-nilai islami disetiap perjalanannya.
Perjalanan memiliki nilai tersendiri bagi penikmatnya, sebuah perjalanan akan memberikan lukisan dan gambaran tersendiri bagi siapa saja yang melakukannya. Karena tiap individu memiliki point of view masing-masing dan memiliki caranya sendiri-sendiri menilai sesuatu.
Perjalananku dimulai ketika pertama menginjakkan kaki di benua biru, tepatnya sebuat Negara paling utara, Negara Portugal dibulan Agustus akhir. Pada saat itu, cuaca begitu cerah hingga panas. Bahkan lebih panas dari Jakarta. Namun udaranya tidak sepengap Jakarta, karena angin selalu bertiup sepoi-sepoi dan segar. Namun demikian, ketika berjalan lama dibawah matahari akan membuat kulit terbakar juga karena panas. Hari-hari pertama kumulai menjajaki sebuah kota di Portugal, yang pertama aku lihat adalah banyaknya bangunan tua di mana-mana, kotanyapun jadi kota tua. Kalau membayangkan jadi ingat semarang bawah di bagian dekat stasiun tawang, semua bangunannya seperti itu. Jalanannyapun sama, ditata rapi batu-batu kecil berjajar dan bersih.
Bangunan tua menghisasi semua sudut kota namun banyak juga ditemui gereja dimana-mana. Gereja hampir setiap blok ada, bahkan ada gereja besar-besar yang berdampingan. Baru hari pertama jalan-jalan aku sangat takjub melihat megahnya dan besarnya bangunan gereja tua ini. Besar dan angkuh kulihat. Dengan dindingnya yang dingin, lantainya yang dingin dan suasanyanya yang sunyi senyap berasa semakin dingin dan mencekam. Baru di eropa (Portugal) ini aku merasakan masuk ke gereja, karena penasaran juga apa sich isi bangunan segede itu. Ternyata didalamnya banyak lukisan dan patung-patung. Entah apa maksudnya, namun aku foto-foto saja.
Begitu seringnya jalan-jalan dan yang dilihat adalah gereja tua, semakin lama-semakin bisa mengenali gaya gerejanya kok seperti bangunan masjid? Pertama melihat lengkungan setengah lingkaran dinding gereja, langsung bisa merasakan sepertinya ada yang aneh. Banyak gereja yang atapnya mirip seperti kubah, dinding gereja dan tiang-tiang penyangganya yang sangat menyerupai masjid membuatku iseng melakukan sebuah eksperimen.
Dengan bantuan gadget aku coba mengecek arak mata angin (kompas) yang bisa menunjukkan dimana letak kakbah. Alangkah terkejutnya ketika kenyataan yang aku dapatkan adalah arak kiblat sesuai dengan arah gereja ini berdiri. Disana sangat tampak sekali bentuk mighrab berdiri kukuh dengan tiang-tiang penyangganya yang melengkung-melengkung khas masjid. Namun ini baru gereja pertama, mungkin hanya kebetulan saja pikirku.
Perjalanan yang kulakukan ke Faro memberikanku sebuah petunjuk lain mengenai arah mata angin. Faro berada di dekat semenanjung Iberia, yang semua tahu bahwa melalui semenanjung inilah dahulu Islam memasuki benua Eropa. Dan ketika kami city tour di Faro, kami berkunjung ke kota tua dan menemukan dinding-dinding bangunan yang sangat khas timur tengah, melengkung setengah lingkaran (seperti tapal kuda) hanya sayangnya diatas atap sudah berdiri simbul sebuah agama lain.
Bangunan ini sekarang menjadi sebuah gereja di Faro, bangunan yang sudah ditambahkan berbagai ornament khas sebuah agama non islam ini sebenarnya masih dijaga keasliannya. Jadi bagi umat muslim, hal ini sangat mudah dikenali bahwa dahulunya bangunan ini adalah masjid. Iseng aku keluarkan gadgetku lagi dan aku cek arah kiblat. Dan hatiku bergetar ketika arah kibat benar-benar menunjuk kea rah mighrab yang sekarang sudah penuh berisi patung dan lilin.
Aku sentuh tiang penyangga yang berdiri tegap, kupandangkan mataku kelangit-langit bangunan ini, lengkungan itu, dan empat tiang penyangga khas bangunan masjid. Menara tempat panggilan adzan dan bangunan support pelataran masjid yang dipenuhi dengan pohon-pohon jeruk.
Mungkin yang sangat kita kenal dan kita ketahui selama ini adalah kondisi masjid di Ahambra yang sudah beralih fungsi menjadi gereja cathedral. Namun kemungkinan hampir seluruh masjid yang dahulunya dibangun di semenanjung Iberia, negeri handalusia, sudah diubah fungsi menjadi gereja. Mereka menambahkan ornament dan berbagai sentuhan lain. Namun buatku, hal itu tidak menghilangkan cirri khas sebuah masjid. Entahlah…mungkin hal ini bisa jadi salah, namun demikian kenyataan yang aku lihat berkata lain membuatku semakin ingin mendapatkan hal-hal lain yang membuatku semakin percaya bahwa dahulunya Islam pernah memberikan cahanya di benua ini.
Andai saja hal itu masih berlanjut hingga sekarang, mungkin aku akan dengan mudah menemukan masjid di Portugal ini, aku akan mendengar seruan adzan setiap kali waktu sholat. Dimana-mana, akan aku lihat anak-anak kecil berlalian membawa peralatan sholat dan menghapal alquran.
Namun kenyataan sekarang adalah. Bangunan-bangunan yang sudah diubah fungsinya itu berdiri angkuh menjadi tempat yang tak terpakai, hanya menyisakan keusangan dan kegersangan saja. Tidak ada yang menggunakan. Hanya sebatas petugas resepsionis yang akan dengan senang hat menjelaskan kepada turis-turis yang datang dan mereka mengangguk-anguk menerima penjelasan yang entah itbenar atau sengaja ditutup-tutupi. Entahlah…sejarah telah dirubah atau memang sudah berubah, hanya waktu yang tahu. Dan kenyataan sekarang adalah, bukannya anak-anak mengkaji dan menghapal alquran. Lebih-lebih pergi ke tempat ibadah mereka. Namun yang ada adalah, mereka berkumpul setiap malamnya disebuah bar, tertawa dan berjoget mengikuti alunan music yang diputar kencang-kencang. Tidak hanya anak-anaknya, bahkan orang tua dan yang lanjut usia. Mereka lebih mendewakan tempat-tempat itu dari pada mengisi hari-hari mereka dengan sesuatu yang lebih penting.
Kenyataan yang lain adalah, hanya sebuah basemant atau lantai paling bawah dari sebuah apartemen yang digunakan sebagai masjid. Namun Alhamdulillah, dan insyaAlloh ini tidak akan mengurangi kekhusukan kami, umat muslim, menjalankan ibadah di benua biru ini. Ya Alloh…hanya Engkaulah yang tahu, Sang pembolak-balik hati..dan sang penentu sesuatu. Semoga suatu hari, mereka tahu yang sebenarnya telah mereka lakukan.

Minggu, 11 November 2012

Tinggal di Asrama

Tinggal bersama disebuah komunitas multikultur dalam sebuah residence kampus merupakan sebuah kebanggaan tersendiri dan sebuah kelebihan dibandingkan dengan tinggal di apartemen atau menyewa rumah dengan komunitas yang homogeny atau bahkan komunitas individualism.
Pertama yang kubayangkan ketika dikatakan oleh sekretaris konsorsium bahwa nantinya aku akan mendapatkan tempat tinggal sebuah asrama. Bayanganku langsung melayang ke pengalaman tinggal di asrama waktu SMA dulu. Asrama yang satu ruangan besar dengan isi 8 – 10 orang, dengan tempat tidur bertingkat. Kalau teman yang tidur diatas bergerak, teman yang dibawah akan merasakan gerakan itu. Tidak ada tempat belajar khusus, hanya berjajar tempat tidur dan lemari kecil tempat menyimpan baju atau buku yang kami miliki. Atau asrama mahasiswa kampus yang sangat kumuh dengan ventilasi seadanya, tidak ada housekeeping, jadi kami membuat jadwal program bersih2 tiap minggunya.
Namun, kenyataan berkata lain. Ternyata disini (Eropa, khususnya Portugal) memiliki standar tersendiri dalam mengelola resident atau asrama mereka. Mereka membuat asrama berasa nyaman, ventilasi lebar yang siap dibuka dikala musim panas atau dapat ditutup dengan maksimal tanpa ada celah sedikitpun ketika musim dingin datang. Dalam asrama disediakan kamar yang ukurannya cukup luas berisi masing-masing 2 orang, dengan 2 lemari pakaian besar, meja belajar, malpu belajar, lampu tidur, lampu kamar. Fasilitas dikamar yang menarik lainnya selain tempat sepatu yang sudah disediakan berpasangan adalah tempat cuci tangan air mengalir, jadi kalau malam2 terbangun ingin ambil air wudhu, saya tidak usah susah2 keluar kamar.
Fasilitas pendukung lainnya adalah tempat memasak yang electric, diberikan fasilitas lemari es untuk menyimpan makanan. Kebanyakan dari kami, mahasiswa muslim lebih nyaman masak sendiri. Jadi persediaan bahan makanan akan tersimpan dengan baik di dapur ini. Dan fasilitas housekeeper yang membantu membersihkan kamar, hingga lantai serta sampah tidak menjadikan asrama kumuh.
Tempat mencuci, walaupun harus menyisihkan koin lagi sekitar 1,8 euro setiap kalo mencuci, namun cukup membantu karena tidak harus capek-capek kucek2 baju dikamar mandi. Kamar mandi dikhususkan buat mandi saja. Ada seorang temen yang dibela-belain membeli ember karena mungkin pengen ngirit mencuci sendiri malah dapat teguran, bahwa tidak boleh mencuci dikamar mandi.
Itu merupakan kenyataan lain yang kudapatkan, dan sangat terbayar dengan harga 98 euro/bulan. Beberapa teman di kota lain seperti Braga, Coimbra atau Porto bahkan harus merelakan lebih banyak euro-nya (180 – 350 euro/bulan) karena mereka mendapatkan fasilitas yang lebih bagus. Seperti tinggal sendiri dalam satu kamar, dapur ada dalam satu kamar, dicucikan, serta loker masak tersendiri dan dengan kunci. Ada harga, ada fasilitas.
Kelebihan lain yang kudapatkan dengan tinggal di asrama mahasiswa adalah seperti yang sudah saya singgung sedikit diawal. Kemungkinan bersinggungan dengan mahasiswa multikultur, multirase, multi bahasa dan multi agama, lebih besar. Setiap harinya kami harus berpapasan, berkomunikasi, dan saling membantu. Hal ini menjadikan self awareness akan cultural menjadi terbentuk. Bisa lebih toleran terhadap kebiasaan hidup orang lain.
Pernah diawal-awal datang, aku mencoba mendengarkan ayat alquran dengan volume sedang sambil nyetrika baju. Aku pikir, kamarku jadi bebas hawa-hawa panas atau jin gitu  eh…malah besoknya aku dapat complain, karena katanya “lain kali kalau mendengarkan music jangan keras-keras, mengganggu teman sebelah yang akan tidur..”. eh, iya, aku baru sadar, kalo aku lagi di luar negeri, mungkin waktu di Tangerang dulu, sudah kebiasaanku mendengarkan Tilawah dengan volume sedang, dan tidak ada yang complain, karena mereka (temen-temen) sebelah kamar juga enak-enak saja mendengarkan Tilawah. Namun disini lain.
Dengan seringnya bersinggungan dan bersentuhan dengan bahasa-bahasa asing. Menjadikanku lebih cepat dalam progress melancarkan komunikasi. Bahkan karena teman sekamarku dari Negara yang berbahasa portugis, maka aku bisa mendapatkan pelajaran dari percakapan-percakapan kami. Hal ini akan sangat beda dibandingkan dengan tinggal dalam komunitas homogen, sesame orang Indonesia misalnya. Mendapatkan pelajaran bagaimana setiap teman dari Negara lain mengerjakan tugasnya, ada yang sangat perfectionis walau kadang malah jadi salah kaprah, ada yang slow down…babeh… Namun demikian tinggal dalam sebuah komunitas heterogem dan multi habits ini tidaklah selalu positif, hal-hal yang tidak baik misalnya kehilangan barang di dapur, rebutan tempat masak, atau saling complain adalah suatu hal yang sering terjadi. Bagiku, yang kebetulan bahan makanan sangat beda dengan mereka, karena makanan pokok adalah nasi, sayur dan lauk. Maka jarang saya kehilangan barang. Yang ada adalah alat masak dipakai dan tidak dicuci. Untuk menyikapi hal ini, saya sering lebih baik menyimpan beberapa makanan di kamar, seperti roti, telur dan susu. Hal lain yang sebagai Indonesian kurang masuk akal adalah kebiasaan mereka berciuman didepan mata, bukan hanya cipika-cipiki namun benar-benar ciuman basah!! Ciuman di depan TV, ciuman di depan pintu, sambil makan juga sempat-sempatnya ciuman. Pernah suatu ketika aku lagi masak, dan dimeja makan lagi ada sepasang cowok-cewek lagi makan bareng, ehh….ditengah-tengah makan mereka ciuman basah berkali-kali…apa ya gak berasa bawang tuch ciumannya???
Namun demikian, ada kebiasaan menarik yang aku dapatkan selama hidup bersama dalam satu asrama ini. Kebiasaan menyapa dengan siapa saja saat berpapasan. Tidak cuman tersenyum/ menganggukkan kepala seperti kebiasaan di Indonesia. Namun mereka akan lebih senang jika di sapa dengan selamat pagi, selamat siang atau selamat malam. Kebiasaan lain yang bagus adalah kebiasaan mengetuk pintu. Walaupun tahu bahwa pintu itu tidak terkunci, namun kebiasaan ini menurutku bagus untuk menjaga privacy kalau2 orang yang lagi didalam ruangan sedang melakukan sesuatu (penilaianku…) dan tidak mengagetkan mereka.
Itulah sepenggal kisahku tinggal disebuah asrama mahasiswa di pinggiran kota Santarem, Portugal.

Jumat, 09 November 2012

Menciptakan Lingkungan Kerja yang sehat

Menciptakan lingkungan kerja yang sehat adalah sebuah kompetensi yang harus dimiliki oleh semua staff di tiap unit di rumah sakit. Termasuk didalamnya adalah perawat. Perawat dituntut memiliki kemampuan ini karena dalam kenyataan dilapangan, perawatlah ujung tombak pelayanan rumah sakit. Perawatlah yang lebih banyak “bersentuhan” dengan pasien dan keluarganya. Dalam 24 jam, perawatlah yang lebih banyak berkomunikasi dan memberikan pelayanan dengan asuhan keperawatannya. Dari hal tersebut, perawat harus mampu memulai dari dalam dirinya menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Sesuai standar American Association of Critical Care Nursing (AACN) Lingkungan kerja yang sehat dipengaruhi oleh beberapa kategori, yaitu: kemampuan berkomunikasi yang baik, kerjasama/kolaborasi yang sesungguhnya, pengambilan keputusan yang tepat, pengaturan ketenagaan yang memadai, saling mengakui dan menghargai antar staff, serta kepemimpinan yang handal.
Sudah bukan sesuatu yang baru ketika komunikasi adalah kunci jawaban paling ampuh dalam sebuah hubungan interpersonal, dalam komunikasi terkirim sebuah pesan dan diterimanya pesan timbale balik. Komunikasi dianggap sebagai “senjata” paling ampuh yang dimiliki oleh seorang perawat. Baik dalam hubungannya dengan pasien, atau selebihnya hubungan dalam sebuah tim.
Yang akan lebih saya soroti disini adalah variable ke 6, yaitu saling mengakui dan menghargai antar staff, professor J, seorang guru besar keperawatan di sekolahku mengatakan bahwa. Aspek ini sangat penting dan merupakan aspek dasar dalam sebuah hubungan. Hubungan tanpa adanya saling menghargai akan menganggap yang lain superior dan yang lainnya inferior menjadikan hubungan dilingkungan kerja tidak sehat. Baik hubungannya dengan antar profesi atau sesame profesi sendiri.
Saling mengakui dan menghargai sesame profesi perawat saya pandang sebagai sebuah hal yang sangat-sangat penting. Aspek ini harusnya sudah ditanamkan secara berulang-ulang dan benar-benar menjadi consent dalam keperawatan. Fenomena yang ada selama ini adalah, belum adanya saling mengakui, menghargai dan berjalan seirama. Masing-masing menggunakan egonya sendiri, masing-masing menganggap bahwa dirinya paling benar dan paling mampu. Sebagai contoh simple sebagai embrio rasa tidak mengakui sesame profesi adalah ketika sesama mahasiswa yang sedang praktik klinik di rumah sakit dan bertemu dengan mahasiswa dari institusi lain. Bukannya mereka duduk bersama dan berdiskusi merencanakan sebuah pengembangan bersama, yang ada adalah saling menggunjing, saling menjelek-jelekkan institusi yang lain, memandang bahwa intitusi lain begini lah, institusi itu begitu lah dan sebagainya. Tanpa adanya rasa saling memiliki profesi bersama, memiliki tanggung jawab bersama mengembangkan profesi keperawatan ini.
Karena hal tersebut sudah menjadi kultur yang terus menerus dihembuskan oleh generasi pendahulu hingga generasiku, dan kenyataan dilapanganpun tak jauh berbeda dengan yang terjadi semasa menjadi mahasiswa. Bahkan dalam structural dan organisasi pemerintahpun walaupun katanya profesinya perawat masih saja terkotak-kotak tanpa adanya keselarasan pandangan.
Ambil saja contoh, jenjang pendidikan keperawatan di Indonesia yang masih terpecah belah dan susah disatukan karena memiliki pandangan masing-masing. Pendidikan dibawah kementrian kesehatan yang di formulasikan hingga pendidikan D-IV keperawatan semakin menjadikan profesi keperawatan semakin tidak focus. Pendidikan dibawah kementrian dikti diawali dari jenjang sarjana hingga pascasarjana. Hal ini contoh real yang bagi siapa saja kadang menutup mata dan telinga untuk membahasnya karena masing-masing memiliki kepentingannya sendiri-sendiri.
Lagi-lagi ketika sharing dengan professor dikampusku saat ini, pada awalnya aku menggali informasi system pendidikan di Portugal, ada berapa banyak pendidikan tinggi keperawatan di Portugal dan sabagainya, dan mengalirlah obrolan kami. Hingga sampai pada pertanyaan beliau mengenai Indonesia. Pertanyaan beliau sangat spesifik dan simple, “dengan adanya multi level pendidikan, mulai dari Diploma, dan sarjana apakah dilapangan ada perbedaan tanggung jawab?”
Aku hanya tersenyum dan mencoba menjawab secara diplomatis. Kemudian beliau mulai menceritakan bahwa 15 tahun silam, di Portugal juga memiliki masalah yang sama. Dengan banyaknya macam pendidikan keperawatan dan level jenjang pendidikan. Namun, kemudian perawat-perawat di Portugal duduk bersama, saling membuka hati dan pikiran bersama-sama bahwa perlu adanya pembenahan. Hingga kemudian dirumuskan adanya kesepakatan bersama dan menjadi panduan bersama bahwa pendidikan keperawatan di Portugal diawali dengan sarjana keperawatan yang ditempuh selama 4 tahun. Semua pendidikan tinggi memiliki system yang sama dan berada dibawah kementrian pendidikan. Hingga sekarang mereka mampu mengatakan bahwa hampir semua lulusan dari setiap institusi pendidikan memiliki kompetensi yang sama.
Mengenai tanggung jawab dan kompetensi, sesungguhnya akupun pernah mendengar adanya perbedaan dan sudah dirumuskan jauh-jauh hari sebelumnya. Namun kenyataan dilapangan memang jauh panggang dari api. Semua berjalan seperti apa adanya, seperti kultur dan kebiasaan yang sudah ada dari ratusan tahun sebelumnya.
Berkaca dari Negara Portugal dan mungkin Negara-negara yang lain. Mampukah para petinggi-petinggi keperawatan di Indonesia, baik yang ada di kementrian kesehatan atau kementrian pendidikan duduk bersama dan saling membuka hati dan pikiran untuk mendapatkan jalan keluar secara bersama?
Memulai langkah baru memang kadang tidak mudah, kadang membutuhkan effort yang cukup kuat untuk membuang jauh-jauh kepentingan pribadi, mengesampingan bisnis dan kebutuhan dapur. Namun demi kemajuan profesi keperawatan di Indonesia, alangkah mulianya jika pengalaman di Negara Portugal bisa menjadi referensi untuk Indonesia. Dengan begitu buruknya system kerjasama didalam profesi keperawatan sendiri menurutku menjadikan profesi lain bertepuk tangan dan tersenyum “menghina”.
Bagaimana mereka akan menerima kita sebagai mitra jika dari dalam profesi sendiri kita masih saling bertengkar, saling “jotakan” belum ada kesepahaman bersama. Apakah teori kolaborasi dan kemitraan hanya akan berdengung di dalam teori dan pelajaran kampus saja namun jauh dari kenyataan di lapangan??
Ada beberapa hal yang tentunya mampu dilakukan sejak dini untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, khususnya saling menghargai dan mengakui antar sesame profesi.
Pertama, sejak awal seorang calon perawat harus sudah ditanamkan dan diajarkan secara mendalam dan berulang-ulang. Tanamkan dalam pikiran dan tingkahlaku mereka bahwa menghargai sesame perawat adalah hal yang paling penting. Jangan memandang mereka dari institusi mana, namun yang namanya perawat, kita bisa bersatu tanpa ada embel2 nama institusi pendidikan.
Kedua, role model dan contoh para petinggi-petinggi di keperawatan harus mampu memberikan gambaran bagaimana sesama perawat menghargai dan mengakui antar sesamanya, sesame institusinya. Dengan kesungguhan hati mampu membuka diri dan membagi ilmunya untuk bersama.
Ketiga adalah mencoba mengaaplikasikan apa yang sudah dipelajari dengan sebaik-baiknya, bekerja dengan sepenuh hati dan menjadi bagian dari system kerja secara seimbang dan professional.
Keempat, membawa pemahaman saling menghargai dan mengakui sesame profesi perawat kedalam dunia pekerjaan. Jangan mudah bertengkar sesame perawat sendiri, saling bekerjasamalah, saling menjaga dan berkomunikasi yang baik. Jangan sampai mengkambinghitamkan sesame perawat atau bahkan menjatuhkan nama baik sesame profesi.
Keempat hal tersebut yang saya rasa bisa dijadikan permulaan dari dalam diri sendiri dan sesame profesi untuk saling mengakui dan menghargai. Setelah itu baru diaplikasikan ke profesi lain dalam sebuah tim.

Kamis, 08 November 2012

3 P bersama Prof J

Kuliah dikelas bersama dengan seorang Profesor membuatku semakin mudah mengantuk...sumpah dech. Namun sungguh aku tahan sekuat tenaga karena Profesor ini begitu baik, begitu sabar dan telaten dengan mahasiswanya. Aku gak enak kalau nantinya dikira gak menghargai. Tapi rasa kantuk semakin menyerang ketika kelas baru berjalan 1,5 jam…masih 1 jam lagi, masih panjang..dan gubrak…!!! aku baru sadar kalau ternyata aku menjatuhkan buku dan pensil yang aku pegang untuk nulis. Semua melihatku, wajahku memerah…dan semua tertawa.
--- Professor J namanya, beliau begitu ramah, selalu menyapa semua mahasiswa dan berjabatan tangan denganku. Selalu menanyakan kabar dengan senyumannya yang hangat. Walaupun sudah “sepuh” namun beliau mengatakan bahwa belum pengen di pensiun, masih ingin mengabdi untuk berbagi ilmu. Kalau pensiun dan tinggal dirumah tanpa aktivitas, katane malah bikin stress dan depresi. Bener juga… Beliau kemudian menceritakan bagaimana kisah perjalanannya menjadi dosen, ketika sudah 23 tahun menjadi perawat di RS, kemudian beliau memutuskan untuk melanjutkan studinya hingga tingkat doctoral.
Beliau mengatakan, dalam hal mengajar, seorang dosen dibagi menjadi tiga kelompok, 3P katanya. Kelompok pertama di sebut dengan Pure lecturer. Kelompok ini biasanya kelompok dosen-dosen baru yang mengajar 1- 5 tahun, mereka akan focus pada bagaimana dia berbicara dengan baik, bagaimana mengelola kelas dan focus pada pencapaian karier dan pendidikan yang lebih tinggi. Dia akan lebih “mendikte” dan penjabaran sekenanya.
Kelompok kedua adalah Professional lecturer, kelompok ini diisi oleh dosen-dosen yang lebih pengalaman mengajarnya lebih lama, yaitu 5-10 tahun. Mereka akan terbiasa menjadi perfectionist, mengevalusi hasil ujian dengan seksama dan tanpa ampun. Mereka berfokus pada pencapaian mahasiswanya. Karena dikelompok ini dosen-dosen sudah memiliki karier dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kelompok ke-3 adalah Poet Lecture..kelompok professor dan guru besar. Kelompok seperfi Prof. J mungkin. Hehe. Kemampuan mengelola kelas tidak diragukan lagi, kemampuan berargumentasi dan menjelaskan pandangan-pandangannya tidak bisa dibendung, semua tumpah ruah, mengalir begitu derasnya…hingga mahasiswa yang mendengarnya bagaikan mendengar sebuah sebuah puisi…
--- Ternyata beliau menyadari kalau kelasnya kadang membuat mengantuk. Hingga beliau memutuskan untuk memberikan setumpuk bacaan buat kami. Setelah dibagi menjadi 6 kelompok, setiap kelompok harus menganalisa dan memahami setiap topic yang beliau arahkan. Syukur dech…membaca paper dan jurnal membuatku lebih tidak mengantuk…karena bisa sambil ngobrol.. dan makan biscuit.

Rabu, 07 November 2012

Kuliahku dulu dan sekarang…

Yang ada dalam bayangan adalah perkuliahan seperti saat dulu di bangku s1, datang, mendengarkan dosen ngomong, tanya jawab kalau ada waktu, atau karena mahasiswanya begitu banyak jadi aku bisa tidur2an di bangku paling belakang, nitip absen, dll. Namun katanya sekarang sistemnya sudah berubah. Mahasiswa lebih diarahkan untuk belajar mandiri, dosen hanya memberikan supervisi dan bimbingan saja. Semoga sebuah kemajuan dan dilaksanakan dengan baik.
Perkuliahan memang membutuhkan banyak konsentrasi dan pemikiran tingkat tinggi (bahasaku agak di lebay2-kan!), karena kalau hanya dilakukan dengan sambil lalu tentunya hanya menghasilkan sisa buangan tanpa ada yang mengendap untuk disintesis suatu hari nantinya.
Dulu waktu kuliah s1, banyak dijejali tugas2 dan banyaknya perkuliahan kelas membuatku hanya berkutat di kost2an, kampus, masjid (kadang2), dan organisasi kecil2an (maklum…gak lihai dalam dunia persilatan organisasi intra atau ekstra kampus!). Selebihnya digunakan untuk mencari hiburan seadanya, belajar seadanya, dan mengaji bersama (seadanya gak ya??? Gak lah…).
Itu sudah berlalu enam atau tujuh tahun lalu, dan kini ketika aku memutuskan lagi untuk melangkah ke dunia pendidikan, menjadi mahasiswa lagi, ada sebersit rasa berat untuk melangkah. Ketika terbayang nantinya akan dibebani banyak tugas, akan di berikan ceramah-ceramah dikelas (yang selalu membuatku ngantuk!), dan hal2 formalitas sekolah lainnya.
Masa-masa kebebasanku ketika bekerja aku rasakan berlalu begitu cepatnya, bangun pagi, sarapan, kerja, pulang, tidur, bangun dan kerja lagi. Begitulah rutinitas sebagai pekerja, tanpa ada beban belajar, beban mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Sebuah zona nyaman kurasakan….
Keputusan yang aku ambil, bukan sebuah jalan yang salah. Keluar dari zona nyaman sudah di publikasikan sebagai langkah terbaik untuk mencapai cita-cita dan keinginan. Namun bayangan akan sebuah rutinitas tulis menulis, membuat makalah, presentasi dan lain sebagainya seakan kembali menggelayuti kakiku untuk melangkah. Apalagi ketika sharing dengan seorang teman yang baru lulus ambil s2 (master) di Australia yang katanya s2 disana kreditnya sebanyak 72 kredit sudah bikin kelabakan dan berpusing-pusing ria. Nah programku, sama2 s2, sama2 satu setengah tahun…lha kok bebannya 90 kredit! Cukup berat kata temenku.
Sekiyan lama berkutat di dunia pekerjaan, sudah tidak pernah lagi memikirkan yang namanya methodology penelitian, aturan2 baku penulisan ilmiah dan proses-proses pembuatan laporan yang lain. Sungguh sulit diawal-awal ketika otak ini terbiasa dengan kenyamannya, kemudian dipompa lagi untuk berusaha berfikir dan menganalisa. Bismillah….pasti bisa.
Kembali ke system pendidikan yang dulu aku alami dan sekarang aku jalani. Ternyata tidak sepenuhnya seperti yang aku bayangkan. Tugas-tugas memang banyak, ada ceramah dikelas, diskusi dan belajar mandiri. Dari 90 beban kredit yang harus dicapai, prosentase terbanyak adalah belajar mandiri. Mungkin begitulah esensi yang ada, mahasiswa dituntut untuk belajar mandiri dan lebih focus.
Bicara lain mengenai mahasiswa di sini, sejauh pengamatanku mereka memiliki pola belajar yang tidak sama dengan mahasiswa Indonesia. Walaupun mengenai belajar kuliah, dikelas, tugas-tugas hampir sama. Namun yang aku soroti disini adalah kegiatan keorganisasian atau ekstrakulikuler yang mereka punya.
Kebetulan aku diasrama sekamar dengan seorang mahasiswa S1 pertanian asal afrika, aku bisa mengamati kebiasaan dia sehari-hari dalam perkuliahaannya. Kebiasaan party dan mengadakan kegiatan dimalam hari sampai pulang larut adalah rutinitas mereka. Pulang dini hari, jam 3 atau 5 pagi. Ketika aku bangun untuk sholat, mereka datang langsung tidur dan bangun lagi jam 9 atau 10, langsung berangkat kuliah. Kok gak ngantuk ya?? Ternyata mereka rajin kuliah, kalau telat bakalan lari-lari menuju kampus, walaupun kadang tidak mandi, namun mereka pasti berusaha datang ke kampus. Terus kapan mereka belajarnya? Mereka kalau belajar ya benar-benar belajar, masih menceritakan teman sekamarku. Walaupun kegiatan party pulang larut atau bahkan kadang tidak pulang berhari-hari. Namun kalau dia lagi belajar, dia akan dikamar, membaca, konsentrasi dan selanjutnya ya pergi lagi!!
Kultur perkuliahan di Indonesia memang beda karena adat istiadat dan agama mengajarkan hal yang berbeda. Menjadi mahasiswa internasional membawaku menjadi lebih tahu pola hidup, kebiasaan, dan perspective lain mengenai pendidikan dari multicultural ini.

Selasa, 06 November 2012

Traveling Addictive 2 - Obidos…the historical were disappears

Aku terpana melihatnya, ketika menginjakkan kaki keluar dari Bus Tejo yang membawaku ke area wisata kota tua bernama Obidos. Terletak di Pousada do Castelo atau Oeste Subregion bagian dari Estramedura region yang merupakan historical province of Portugal. Mengunjungi Obidos adalah program International Weeks yang diakan oleh kampus tempatku belajar. Bersama-sama dengan semua mahasiswa internasional dari berbagai Negara kami dibawa kesana.
Walaupun tidak ditemani oleh tour guide namun, aku mencoba menangkap sinyal-sinyal yang ingin disampaikan dari landscape kota ini. Sebuah kota kecil dikelilingi oleh benteng pertahanan. Sejarah mengatakan bahwa kota ini dibangun oleh bangsa Moor setelah mengalahkan kekaisaran Romawie pada abad ke-5 (http://en.wikipedia.org/wiki/%C3%93bidos,_Portugal). Namun pada tahun 1148 Raja Portugal pertama yang bernama Afonso Henrique mengerahkan pasukannya, dibawah pimpinan Gonçalo Mendes da Maia bangsa Moor dikalahkan dan Obidos diambil alih oleh mereka.
Memasuki gerbang kota Obidos hanya ada satu pintu, pintu gerbang tampak sangat kokoh dengan lengkungan khas peradaban arab. Kota ini sekarang benar-benar menjadi kota turis dan tempat wisata, bahkan bisa dikatakan desa wisata. Rumah-rumah didalamnya sudah disulap menjadi tempat menjajakan aneka macam miniature dan oleh-oleh khas Portugal ataupun Obidos. Jalan masuk utama langsung menuju ke puncak menara yang sudah disulap menjadi lonceng tower. Namun bentuk lengkungan khas kubah masjid masih Nampak jelas disana, hanya saja diatas lengkungan kubah tersebut sudah di tambahkan salib. Aku membayangkan dulu sekitar abad 6, setiap sore adzan dikumandangkan dari atas menara tersebut dan anak-anak kecil berlarian dijalan utama ini menuju masjid untuk mengaji dan sholat. Kucoba mendekati dinding benteng yang kokoh itu, kusentuh perlahan bongkahan batu kasar itu. Bongkahan batu sayang sama sejak tahun pertama diletakkan hingga sekarang. Bongkahan batu yang menjadi saksi bisu sebuah peradaban berganti, batu yang menyaksikan setiap detik waktu berganti dan begitu banyaknya kepentingan-kepentingan didalamnya. Andai engkau dapat bercerita..tak cukup ratusan buku menulis setiap kata darimu..
Benteng masih tampak berdiri dengan kokohnya, menapaki tangga-tangga menuju puncak benteng berasa kembali kejaman dulu ketika bangsa Moor masih berkuasa dan tempat ini menjadi pusat aktivitas penduduknya. Benteng ini yang melindungi mereka dari serangan musuh, melindungi mereka dari hawa dingin diakhir tahun.
Melewati hari di Obidos hanya dihabiskan dengan berfoto dan makan siang, tidak ada penjelasan sejarah sedikitpun dari orang asli yang tinggal disini maupun dari tulisan-tulisan yang ditinggalkan. Mungkinkah semua sudah dihapus hingga tidak ada yang bisa mendetesinya lagi. Mungkin… Yang kutemukan disana adalah sebuah gereja dengan yang dibangun di tengah2 kota, dibangun tahun 1182. 34 tahun setelah kota ini dikuasai oleh Raja Afonso. Dan kenyataan sekarang ditulis disana bahwa Obidos dibangun sebagai Vila khusus putri Portugal, yang dibangun sekitar tahun 1384. Kenyataan yang sengaja ditutupi untuk menyembunyikan realita sebenarnya atau dengan kesengajaan agar sejarah tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya.
Obidos…sejarah yang hilang, atau sengaja dihilangkan? Begitulah yang kurasakan. Tak kuasa menahan keingintahuan, kucoba mencari jawaban di google. Pada awalnya kusearching peradaban islam di Portugal, namun disana muncul beberapa tampilan gambar Obidos dan Alhambra. Sungguh tak terduga bahwa landscape kedua tempat ini bercirikhas sama. Hanya saja karena Alhambra merupakan pusat kerajaan kekhalifahan Bani Umayah jadi ukurannya lebih besar dan lebih megah dan didalamnya masih dijaga keasliannya.
Melewati hari-hari di Portugal menjadikanku semakin yakin bahwa dulunya Negara ini merupakan sebuah peradaban islam yang sangat maju. Dengan banyaknya peninggalan ditiap sudut kota, walaupun “mereka” berusaha menutupinya dengan berbagai macam cerita dan tulisan ataupun historical yang mungkin diciptakan dengan sengaja. Namun hati kecilku masih tetap yakin dengan tampilan fisik dan cisi khas yang Nampak dari peninggalan-peninggalan kejayaan Islam.
Masih teringat dengan jelas ketika pertama diadakan City Tour dan kami sebagai mahasiswa Internasional di berikan penjelasan oleh tour guide. Si mbak-mbak tour guide hanya menjelaskan sejarah Portugal sejak abad ke 15an saja. Tanpa pernah menyinggung mengenai sejarah diabad-abad sebelumnya.
Hari sudah hampir senja, ketika kami satu rombongan melangkah keluar menuju parkiran Tejo Bus yang dengan setia menunggu kami. Tak ingin rasanya beranjak dari atas benteng memandang jauh kebawah yang menawarkan indahnya lahan hijau dan suburnya pertanian di sekitar Obidos..dan mereka dahulu menjadi sakti bahwa Obidos menyimpan cerita yang tak bisa mereka lupakan…

Senin, 05 November 2012

Experiences - Health System

“Klik2…” Sebuah short message masuk.. “Bagaimana kabarnya? Ada update ilmu apa?” Kubaca berkali-kali sms itu, kumencoba memberanikan diri untuk membalasnya walau mungkin tidak sepenuhnya menjawab pertanyaannya. Pertanyaan yang cukup sulit kurasakan.
“System kesehatan di Portugal (LN??) lebih teratur…”
Kukatakan demikian karena kita bisa berkaca pada diri kita sendiri di Indonesia. Semua orang sudah tahu dan tak bisa memungkiri bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia masih jauh dari kenyataan tertata dengan baik. Kesenjangan terjadi dimana-mana. Ada harga ada rupa. Ada uang layanan terbaik bisa di beli. Kalau gak ada uang, silahkan mencari tempat untuk dikuburkan. Bahasaku sangat sinis memang. Namun demikian adanya.
Kenyataan pahit yang pernah aku lihat didepan mata kepalaku sendiri, ketika seorang pasien dengan terpaksa mengambil jalan pintas, pulang paksa atas permintaan sendiri, dan minimal therapy, do not attempt resuscitation (DNAR). Padahal kondisi sepsis berat seperti yang dialami pasien tersebut, jika ada pelayanan yang maksimal akan dapat di lalui, dan crisis schok sepsis akan tertangani.
Kenyataan mengatakan lain, kondisi financial problem yang dialami dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan menjadikan fakta bicara lain. Rujukan yang dialamatkan ke berbagai rumah sakit pemerintah daerah, yang seyogyanya bisa memberikan pelayanan gratis mengatakan bahwa tempatnya penuh, ataupun jika ada tempat, tidak memiliki vasilitas mechanical ventilation. Kenyataan pahit bagi kaum papa!
Fasilitas jamkesmas, askeskin, jamkesda, atau apalah namanya. Tidak membuktikan sebuah cara yang ampuh untuk memeratakan layanan kesehatan. Fasilitas tempat rujukan yang adapun sangat minimal dari sebutan standar. Ataupun jika ada yang standar, warga masih banyak yang belum tahu bagaimana memanfaatkan fasilitas yang ditawarkan itu. Warga lebih senang menyimpan lara-nya sendiri daripada membebani Negara, warga lebih suka menyimpan deritanya sendiri demi kesejahteraan Negara. Namun Negara begitu susah memahami warganya. Mungkin analisaku terlalu ekstrim, memang aku jadikan seperti itu supaya semua membuka mata.
Di Portugal, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kondisi Indonesia. Karena Portugal bukanlah Negara Eropa yang kaya dan makmur, krisis ekonomi yang melanda eropa menjadikan warganya prihatin dan mendukung pemerintah. Setidaknya demikian pengamatanku.
Di sebuah kota kecil Santarem misalnya. Santarem merupakan sebuah kota distrik dari Portugal. Memiliki pemerintah daerah sendiri. Mungkin bisa diibaratkan provinsi, namun karena kotanya yang kecil dan penduduknya yang sedikit, mungkin hal inilah yang menjadikan kemudahan dalam melakukan pengaturan.
Di Santarem ada sebuah RS Pemerintah yang berdiri kokoh, tinggi, besar. Layaknya RS Siloam Karawaci. Namun ini miliknya pemerintah. Ada beberapa rumah sakit swasta (privat) namun skala dan ukurannya lebih kecil.
Jadi, secara umum dapat disimpulkan seperti ini :
1. Perawat di mana2 underpaid…
Kata banyak temen, semoga tidak hanya sekedar menghibur hati. Gajinya adalah pahala. Yang nantinya akan diterima di surga. InsyaAlloh..
2. Ilmu sich itu-itu saja yang dipelajari
Hanya bagaimana ilmu itu dipelajari, diendapkan, dianalisa dan disintesis. Dengan hati yang bersih dan niat mulia. InsyaAlloh jadi ilmu yang bermanfaat. 3. Yang lebih diperhatikan adalah, bagaimana menggunakan ilmu ke praktek dan mempraktekkan ilmu. serta menjadikan hasil praktek menjadi ilmu
4. Harus berfikir keras menjembatani antara akademik-klinik-akademik
5. Dimana banyak hal yang mempengaruhi, spt expert opinion, pemegang kebijakan dan pengguna jasa. Semuanya terangkum dalam evidence base practice...hingga semuanya sejalan seirama...gak jalan sendiri2 dan punya dunianya masing-masing
6. Harus sama-sama membuka diri dan membuka hati…menerima dan ikhlas menjalankanya.